Melestarikan Budaya Bintuni Melalui Pencak Silat

Oleh Wawan

31 January 2018 07:01 406 VIew

''Suasana latihan Tapak Suci Bintuni''

Bintuni- Pencak silat disamping cabang olahraga yang dipertandingkan, juga merupakan warisan budaya Indonesia yang sangat patut dilestarikan. Tak hanya itu, pencak silat juga mencegah hal-hal negatif dari kegiatan yang kurang bermanfaat.

Hal inilah yang dijelaskan H.Haris Kaitam, salah satu pengurus perguruan silat Tapak Suci cabang Bintuni, Rabu (31/1). Dirinya menjelaskan bahwa nilai sejarah pencak silat yang harus dilestarikan, dan untuk di Bintuni tapak suci memiliki 60 kader, dari tingkat pemula dengan sabuk warna kuning, menengah dengan sabuk warna biru, sampai tingkat pendekar dengan sabuk warna hitam. Bukan hanya ilmu bela diri yang diajarkan, tapi juga nilai-nilai moral dan agama juga turut serta diselipkan dalam pelatihannya.

"Tapak suci hadir di Bintuni mulai dari tahun 2006. Kami melakukan latihan dalam satu minggu 3 kali dan menerima bagi semua kalangan yang ingin belajar bersama dari anak-anak, remaja, dan dewasa," jelasnya.

Sebutan "pendekar" bagi kader pencak silat pun pantas disematkan karena selain membentuk kepribadian yang lebih baik, seorang kader juga patut menjalankan syariat agama dengan baik.

Dengan penuh harapan bila ada ajang kejuaran, Tapak Suci Bintuni dapat ikut menjadi peserta, Selain itu, pemerintah di daerah sudah cukup banyak membantu dan mendukung hampir di setiap kegiatan baik segi moril juga materil. "Harapan ke depannya insan muda yang telah menjadi kader dapat menerapkan apa yang telah dipetik dalam profesi dan kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mewujudkan SDM yang berkualitas," tutupnya.

Seperti yang diungkapkan Eigy, salah seorang kader Tapak Suci. Dengan mengikuti pencak silat, dirinya mulai meninggalkan hal yang buruk di mata agama dan masyarakat. Tapi setelah menjadi kader sekarang, ia mulai meninggalkan itu semua.

Berita Terkait