Tambang Emas di Teluk Wondama Harus Ditinjau Ulang

Oleh Redaksi arfaknews

14 February 2018 07:01 1061 VIew

''Salah satu contoh kerusakan lingkungan akibat penggunaan merkuri''

Manokwari- Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, memiliki kekayaan alam melimpah baik di darat maupun laut, di permukaan maupun perut bumi dan dasar laut. Tak heran, daerah ini menjadi salah satu sasaran investasi bagi para investor. 

Belum lama ini sebuah perusahan dari Jakarta, PT Abhisa Bumi Persada yang bergerak pada bidang pertambangan, berencana melakukan aktivitas penambangan emas di wilayah Distrik Naikere, Kuri Wamesa dan Rasie.

Sudah ada lokasi yang ditaksir dan belum lama ini pihak perusahaan melakukan sosialisasi analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) atas rencana eksploitasi tersebut. 

Perusahaan ini akan beroperasi selama 15 tahun dengan luas area lebih dari 23 ribu hektar yang membentang di tiga distrik tersebut.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat Charlie Heatubun berharap, rencana investasi pertambangan emas berskala besar itu dipertimbangan secara matang. 

Ia khawatir aktivitas penambangan tersebut menimbulkan kemiskinan absolut bagi masyarakat setempat.

Charlie mengutarakan, aktivitas pertambangan emas menyimpan cukup banyak risiko, baik bagi kelangsungan sumber daya alam maupun masyarakat.

"Dari sisi keuntungan, pertambangan emas memang menjanjikan. Dari situ daerah bisa cepat dapat uang, namun dampaknya perlu dipikirkan. Bisa jadi keuntungan yang kita dapat tidak seimbang dibanding dengan dampak buruknya," kata dia.

Menurutnya, kemiskinan di Papua Barat termasuk di Teluk Wondama, masih bersifat intrinsik. Secara materi masyarakat tergolong miskin, namun di sisi lain mereka memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah.

Charlie khawatir, eksploitasi yang akan dilakukan perusahaan di daerah tersebut berdampak pada berkurang bahkan habisnya potensi sumber daya alam.

"Akhirnya, daerah dan masyarakat adat tidak punya apa-apa dan mereka akan mengalami kemiskinan absolut. Sekarang kita miskin tapi sumber daya alam kita melimpah, jangan sampai nantinya sudah miskin lalu tidak punya sama sekali kekayaan sumber daya alam, itu masalah besar," ujarnya lagi.

Ia menyarankan, pemerintah Teluk Wondama memilih opsi pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan serta tidak berisiko. Pengembangan jasa lingkungan melalui program pariwisata dinilai lebih aman dan bersahabat baik terhadap lingkungan maupun masyarakat setempat.

"Teluk Wondama punya potensi itu, dan saya rasa itu sejalan dengan visi misi bupati dan wakil bupati," katanya.

Sebelum mempersilahkan perusahaan melakukan penambangan, lanjutnya, Teluk Wondama dinilai perlu belajar dengan kasus di Kota Minamata, Jepang dan kasus pertambangan di Maluku Tenggara Barat.

"Pencemaran bahan merkuri sangat berbahaya bagi manusia maupun lingkungan," ujarnya.

Berita Terkait