Miris, 398 Anak di Manokwari ‘Gemar’ Cium Lem Aibon

Oleh James Aisoki

28 March 2018 07:01 848 VIew

''Rapat Kordinasi Lintas Sektoral, dengan tema ‘Institusi penerima wajib lapor penyalahgunaan Narkotika’''

Manokwari, arfaknews.com – Pengaruh dan masalah Lem Aibon bagi anak di Papua Barat, khususnya Manokwari, bukan lagi menjadi rahasia umum. Sejumlah faktor yang diyakini menjadi penyebab utama anak terpengaruh terhadap Lem Aibon.

Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Papua Barat, Brigjen Pol. Drs. Untung Subagyo, mengungkap faktor-faktor tersebut, diantaranya, faktor lingkungan, Sosial Budaya, pengawasan keluarga dan faktor tatanan usia sebaya (teman bergaul).

Hal ini diungkap saat Rapat Kordinasi Lintas Sektoral, dengan tema ‘Institusi penerima wajib lapor penyalahgunaan Narkotika’ , Rabu (28/3) pada salah satu hotel di Manokwari.

Berdasarkan data BNN Papua Barat Tahun 2016, tercatat 398 anak dan remaja di Manokwari mengkonsumsi Lem Aibon (Napza).

“Sejauh ini belum ada data yang autentik untuk seluruh Provinsi Papua Barat. Apakah sampai saat ini jumlahnya bertambah atau berkurang, belum bisa dipastikan,” ujar Untung.

Meski terkendala anggaran, setidaknya BNN Papua Barat sudah berkoordinasi dengan 10 Rumah Sakit di Papua Barat, untuk menangani pecandu Napza. Apalagi, pecandu Napsa tidak bisa dibiayai dengan BPJS.

“Saya harap ada kebijakan dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, untuk mendirikan Rumah Rehabilitas (Panti Rehabilitasi) bagi pecandu Napza,” terangnya.

Harapan besar penanganan masalah pecandu lem aibon diharapkan berjalan sesuai program yang sudah disiapkan. Kegiatan ini diikuti pula Dinas Sosial provinsi dan kabupaten Manokwari, Dinas Tenaga Kerja, Badan Pemberdayaan, PKK, Dinas Kesehatan dan OPD terkait.

Berita Terkait