Kasus Gigitan Ular Tinggi, Papua Barat juga Membutuhkan Vaksin Rabies

Oleh Putra Aryanto

10 April 2018 07:01 147 VIew

''Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorongan''

Manokwari, arfaknews.com – Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorongan,mengaku kasus Rabies belum ditemukan di wilayah Papua Barat. Meski demikian, Vaksin Rabies tetap dibutuhkan sebagai langkah antisipasi.

“Kalau Vaksin Rabies sendiri belum ada pengadaannya, berbeda dengan vaksin ular berbisa yang sudah dimiliki setiap rumah sakit atau puskesmas di kabupaten/kota, tetapi jumlahnya terbatas,” ujarnya di Manokwari, Selasa (10/4).

Tahun 2017, kasus Rabies ditemukan tetapi masuk dari luar Papua Barat. Sebagai langkah pencegahan, yang bersangkutan dikembalikan ke daerah asal. Vaksin Rabies sendiri sebenarnya pernah disimpan Dinkes Papua Barat. Karena lama tidak digunakan, akhirnya dikembalikan.

Berbeda dengan vaksin anti ular berbisa, Otto menambahkan setiap instalasi kesehatan di kabupaten/kota memiliki stok, karena kasus gigitan ular di Papua Barat cukup tinggi.

“Stoknya tetap siap, tetapi jumlahnya saya kurang tahu pasti,” bebernya.

Seperti diketahui, Rabies merupakan penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang diakibatkan oleh Virus Rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yakni dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Berita Terkait