Diwarnai Adu Mulut, Sebagian Warga Rendani Tolak Kompensasi Rp.100 Juta

Oleh James Aisoki

13 April 2018 07:01 677 VIew

''Pertemuan Antara Pemkab Manokwari dan Warga Rendani yang Terkena Dampak Perluasan Bandara Redani Manokwari''

Manokwari, arfaknews.com – Pemerintah Kabupaten Manokwari, Jumat (13/4) siang, menggelar pertemuan bersama warga Rendani yang terkenda dampak perluasan Bandar Udara.

Pertemuan di gedung Sasana Karya Kantor Bupati Sowi Gunung ini, sekaligus membayar ganti rugi tanah. Namun sejumlah warga tak sepakat dengan kompensasi yang dibayar Pemkab Manokwari sebesar Rp.100 Juta per kepala keluarga.

Bupati Manokwari, Demas Pulus Mandacan, menyampaikan pembayaran ganti rugi tanah dilakukan sesuai dengan kesepakatan yang disampaikan sebelumnya.

“Kita akan membayar tanah lokasi Polsek Bandara Rendani, lokasi sentra Rendani, relolakasi tanah pembangunan, pengadaan tanah SMP Soribo, lokasi tanah SD dan SMP Aipiri dan pelepasan tanah lokasi bak air Reremi Puncak,” bebernya.

Sementara, khusus untuk tanah bandara, Pemkab Manokwari akan membayar 16 rumah yang berada di lokasi pelebaran Terminal Bandara.

“Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, ganti rugi tanah dibayar seratus juta rupiah per rumah untuk lokasi tanah bandara,” jelas bupati.

Dari panatauan arfaknews.com, hal ini diterima sebagian warga, tetapi beberapa diantaranya menolak dan memprotes hal tersebut. Mereka yang memprotes pun melakukan aksi walk out atau keluar ruangan.

“Kami mendukung pembangunan Bandara Rendani, tetapi harga kompensasi dirsa tidak cukup karena  kita tidak bisa membeli tanah dan membuat rumah baru,” ujar Frengki Mambrasar, mewakili warga yang tidak sepakat dengan nominal pembayaran ganti rugi.

Ditambahkannya, apalagi sebagian warga yang terkenda dampak pembangunan bandara tidak memilki penghasilan tetap.

Alhasil adu mulut pun tak terhindarkan antar sesama warga Redani, antara yang setuju dan yang tidak setuju. Akhirnya, bupati memberi waktu seminggu bagi warga untuk mempertimbangkan pembayaran tersebut.

 

Berita Terkait