SLTP Negeri 15 Manokwari Larang Siswi Gunakan Jilbab, Menuai Kecaman

Oleh redaksi arfaknews

13 July 2018 07:01 3206 VIew

''keakraban siswi tidak berjilbab dan berjilbab dalam menempuh pendidikan di sekolah ''

Manokwari arfaknews - salah satu sekolah SLTP Negeri Manokwari, menuai kecaman dari berbagi pihak, lantaran pihak sekolah melarang siswinya baru masuk sekolah untuk tidak menggunakan jilbab atau kerudung ke sekolah.

Selain itu, pihak sekolah tidak segan bakal mengeluarkan siswa dari sekolah, jika tidak mengindahkan pemberitahuan, serta mempersilahkan orang tua siswa untuk mencari sekolah lain.

Spontan orang tua siswa lalu mendatangi pihak sekokolah, Kamis (12/7), unuk mempertanyakan hal tersebut, terkait penggunaan jilbab dan kerudung bagi siswa yang baru masuk SLTP.

Akibat kebijakan sepihak dilontarkan pihak sekolah SLTP negeri 15, membuat sebagian siswa terpaksa melepas kerudunganya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI Papua Barat Ahmad Nasrau, melalui rilisnyanya, mengatakan, masalah pelarang siswa kenaka jilba atau kerudung ke soklah, merupakan bentuk arogansi ditemui di dunia pendidikan, semestinya Lembaga pendidikan menjadi tempat aman dan nyaman bagi  siswa menempung pendidikan, serta mengekpresikan potensi dan kemampuan di miliki anak..

“Namun justru berbeda dilakukan Kepala Sekolah SMP Negeri 15 Manokwari, berdalih jika hal itu bertujuan untuk menyeragamkan seragam sekolah bagi murid baru, sehingga melarang siswinya tidak boleh memakai jilbab/kerudung,” Kata Ahmad Nausrau.

Untuk mengetahui kebenaran informasi itu, MUI Papua Barat mengumpulkan sejumlah laporan dari orang tua murid terkait adanya pelarangan tersebut, untuk mengklarifikasi kebenaran Informasi,  sehingga komisi Hukum MUI bersama Asisten I  dan Pihak Kesbangpol Manokwari. kemudian mendatangi Pihak sekolah, dimana nantinya hasil pertemuan ini, di laporkan ke Bupati Manokwari..

Sementara Penggunaan seragam sekolah sejatinya telah diatur oleh Permendikbud No. 45 Tahun 2014.  Pelarangan penggunaan kerudung di SMP Negeri 15 Manokwari melanggar UUD 1945, sebab kerudung dikenakan wanita muslimah merupakan bentuk kesadaran dalam mengamalkan ajaran agama.

“Kejadian ini mesti menjadi perhatian semua pihak agar ada perbaikan kualitas tenaga pendidik sehingga masalah seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari, larangan penggunaan jilbab merupakan hal yang sensitif dan perlu untuk di hindari,” tuturnya.

Sedangkan Kepala Sekolah SMP Negeri 15 Rendani Manokwari, Regina Rumfabe, belum mau di temui terkait adanya pelarang siswi SLTP kenaka jilbab atau kerudung ke sekolah.

Selain itu Bupati Manokwari, Demas Paulus Mandacan  menyanyangkan adanya dugaan pelarangan menggunakan jilbab di SMP Negeri 15 Manokwari oleh pihak sekolah, seharusnya Sekolah harus menerima semua siswi tanpa membedakan suku, agama dan ras, apalagi ini sekolah negeri, tidak diperkenankan untuk melarang siswa berjilbab/berkerudung,” kata Demas.

” Apabila pihak sekolah tetap melarang siswa berjilbab/berkerudung, pihaknya akan berikan sanksi tegas untuk pihak sekolah,” selaku penanggungjawab pemerintahan dan pendidikan di kabupaten Manokwari.

“Jangan membuat aturan semena-mena, nanti akan berdampak luas ke seluruh umat beragama, sehingga membuat situasi akan terganggu,” Ujar bupati.

Berita Terkait