Warga Menilai, Polisi Bertindak Arogan Menumpas Miras Di Tambrauw

Oleh James Aisoki

15 July 2018 07:01 415 VIew

''Warga Kampung Arupi, Distrik Mpur Kabupaten Tambrauw melakukan pertemaun bahas nasib warganya ditahan Polda Papua Barat''

Manokwari arfaknews.com -  Warga Kampung Arupi, Distrik Mpur Kabupaten Tambrauw menilai tindakan aparat, kepolisian ketika melakukan penyisiran Minggu (23/5) 2018 lalu, di Kampung Arupi terlalu berlebihan, bahkan terkesan Arogan dan intimidatif.

"kedatangan aparat kepolisian memakai anjing pelacak, serta menggunakan senjata Lengkap, mengobrak-abrik rumah dan barang-barang warga.

 Selain itu, ada aparat kepolsian sebelum melakukan penyisiran telah mengkonsumsi minuman Lokal dari Warga". kata Alpius Atani ketika ditemui Sejumlah Wartawan di kediaman Ketua Eksekutif Lembaga Masyarakat Adat Suku Mpur di Manokwari, Sabtu (14/7).

Dikemukakan, selaku Masyarakat Awam, tindakan aparat ketika menumpas miras cukup berlebihan, dimana prinsipnya tidak menunjukkan polisi itu sebagai pengayoman masyarakat.

"Saat aparat datang, masyarakat lalu mempertanyakan apakah ada surat perintah Penangkapan, Kata Kanit tidak ada. Saat itu, langsung mereka lakukan penyisiran. Karena masyarakat panik akhirnya mereka diam. arogansi ditonjolkan ketika Aparat mendobrak rumah warga , bahkan. Ada aparat menyuruh warga mengambil miras jenis ambil ampoh dan mereka minum". Jelasnya

Menurutnya, selaku aparat seharuanya mereka memanggil kami baik-baik saja, pasti warga datang dan tanyakan siapa yang melakukan penyulingan pasti Warga akan mengaku. Bukan melakukan arogansi yang berlebihan. Kesalnya.

Ia berharap, sebelum kelima warga kampungnya diperiksa lebih lanjut,  akan meminta Kapolda Papua barat dan Gubernur papua barat agar mempertimbangkan minuman lokal sebagai aspek Budaya.

"Kami sadar  apa dilakukan warga salah, namun sebelumnya mereka itu telah mempraktikan kebiasaan mengkonsumsi minuman lokal sebagai kebiasaan, Namun menambah masukan bagi ekonomi rumah tangga akhirnya, mereka menjual sedikit untuk mengais rejeki. Tapi mereka bukan pengusaha minuman seperti dilakukan banyak pengusaha dan pebisnis di kota. Ujarnya

Saya berharap Kapolda dan Gubernur Papua barat  mempertimbangkan aspek budaya sebelum diproses selanjutnya. Anak dan istri mereka mengharapkan kehadiran mereka. Harapanya.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Lembaga Masyarakat Adat Suku Mpur, Kebar dan Karon, Johan Warijo,S.Sos,.M.Si, meminta Kapolda Papua barat untuk mempertimbangkan Aspek Sosial Budaya Masyarakat.

"Tradisi iris (Potong) minuman lokal itu sudah berlangsung sebagai bagaian dari kebiasaan masyarakat Dan masyarakat mengkonsumsinya untuk kalangan masyarakat di Kampung sekitar.

Sebelumnya, masyarakat sudah mengenal minuman Lokal jenis Ampoh dihasilkan dari pohon Enau, selanjutnya disuling menjadi CAP Tikus (CT) dan hal itu dilakukan untuk dikonsumsi namun seiring berkembangnya waktu Minuman Lokal (Milo) itu dijual untuk menambah penghasilan rumah tangga.  Bebernya

Oleh sebab itu, kami minta Kapolda dan Bapak Gubernur agar mempertimbangkan keberadaan dari masyatakat adat ini dan mencari solusi terbaik. Bila perlu jadikan mereka sebagai tahanan wajib lapor saja. Kami jamin, mereka tidak akan terulang lagi.

Dirinya minta agar aparat tidak melakukan tindakan terkesan arogan dan intimidatif terhadap warga. Mereka itu kaum awam, panggil baik-baik pasti mereka datang. Pintanya

Lima Warga Kampung Arupi Distrik Mpur, Kabupaten Tambrauw saat ini sedang mendekam di Tahanan Polda Papua Barat, dua diantaranya Tahanan Wajib Lapor dan yang lain sedang menjalani Proses Penyidikan selanjutnya

Sebelumnya, Kelima Warga ini ditangkap Tangkap dan ditahan di Polda Papua Barat 23 Mei 2018 di Kampung Arupi Distrik Mpur, Kabupaten Tambrauw, lalu dilakukan penahanan di Polda Papua Barat.

Kelima warga diamanankan diantaranya yakni seorang perempuan Bergita Wandoki  (53 tahun), Pilemon Manisra (34 tahun), Sergius makui ( 22 tahun), Aljabar Makui (21 tahun) dan Agus Wandoki (18 tahun). Kelimanya diduga melanggar Undang-Undang Pangan Nomor 18 tahun 2012.

Berita Terkait