Tapak Kaki Pemuda Jayawijaya, Asa Mengubah Kampung

Oleh M. Rizaldy

24 September 2018 07:01 98 VIew

''Foto : Istimewa''

Oleh : Muhammad Rizaldy

''Saya berusaha untuk bisa merubah diri, mengapa orang lain bisa, baru saya tidak bisa, saya ingin belajar lebih dalam, agar orang lain bisa belajar dari saya, kenapa saya bisa dan mereka tidak bisa.''

 

Sengatan matahari seakan tidak mau berkompromi dengan aktifitas warga Kota Makassar, betapa tidak, meskipun serasa membakar kulit, namun tidak menyurutkan semangat Abi Hunkobu untuk menapaki sisi Jalan Pelita Raya VIII, Bua Kana, Rappocini, demi mewujudkan impiannya menyelesaikan pendidikannya di kota Angin Mamiri.

 

Abi sapaan karibnya dengan begitu bersemangat menyusuri jalan itu. tidak sedikitpun niatnya tuk menggunakan moda transportasi di kota yang telah empat tahun ia tinggal bersama rekan-rekannya yang datang jauh dari Yahokimo, Papua demi cita-cita membawah segenggam pengetahuan tuk memajukan daerahnya.

 

Suasana hiruk pikuk kota Makasaar yang ramai itu mempertemukan saya dengan putra tunggal Sidon Hunkobu yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia Timur Kota Makassar.

 

Pertemuan yang tak diduga itu berlanjut, kami memilih berteduh dikoskosan tempat tinggalnya yang berjarak kurang lebih dua kilo meter dari Kampus yang telah menggenjotnya hingga semester delapan jurusan Tekhnik Jaringan Komputer.

 

Dalam suasana santai, Abi menceritakan kisah perjalanannya datang dari Kabupaten Jayawijaya Papua tuk menempuh pendidikan di kota dan lingkungan yang jauh dari keluarga, kerabat dan teman-temannya.

 

Ia mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan hingga bisa mengenyam pendidikan, Abi ditinggal mati Bapaknya ketika berusia dua tahun, setahun kemudian Ibunya ikut meninggal dunia. Abi kecil kemudian diambil oleh saudara sepupunya tuk dititip di Panti Asuhan selama kurang lebih 12 tahun.

 

''Dari usia dua tahun, bapak meninggal, tahun berikutnya ibu lagi meninggal, saya dibawah keluarga tinggal di panti asuhan, saya sekolah SD, SMP dan SMA di panti asuhan,'' katanya mengisahkan.

 

Di Panti Asuhan, Abi mendapat asupan pendidikan SD, SMP hinggga SMA. setelah lulus SMA, Ia bercita-cita untuk merubah nasib dan daerahnya, pilihan kuliah di Kota Daeng ditentukannya meskipun telah dinyatakan lulus SMPTN jurusan Akuntansi di Universitas Cenderawasi Papua.

 

''Saya berusaha untuk bisa merubah diri, mengapa orang lain bisa, baru saya tidak bisa, saya ingin belajar lebih dalam, agar orang lain bisa belajar dari saya, kenapa saya bisa dan mereka tidak bisa,'' tuturnya memotivasi dirinya.

 

Berbekal motivasi yang kuat Mahasiswa kelahiran 1997 ini, ingin membuktikan betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan dirinya dan daerahnya. meskipun jarak antara Kabupaten Jayawijaya yang jauh dan hanya bisa dilalui menggunakan pesawat terbang dengan harga tiket hingga mencapai empat juta, tetap saja tidak menyurutkan semangatnya tuk mewujudkan impiannya.

 

''Walaupun kedua orang tua saya sudah tidak ada, saya tetap semangat untuk kuliah, bagaimanapun caranya saya harus kuliah,'' ujarnya penuh semangat.

 

Dengan tekad yang kuat, Abi ingin semua cita-citanya terwujud, dengan modal Sarjana Komputer yang kelak di sematnya, Abi sudah merencanakan masa depannya setelah lulus kuliah. Ia berencana membuka usaha penjualan dan service komputer di daerahnya.

 

Ia berharap, para pemuda di daerahnya dan daerah lain di Papua dan Papua Barat dapat memiliki tekad dan semangat yang sama seperti dirinya tuk membangun negerinya.

 

Berita Terkait