ICBE 2018 Hasilkan 14 Poin Visi Pembangunan Berkelanjutan Di Tanah Papua

Oleh FX Putra Aryanto

11 October 2018 07:01 293 VIew

''Penandatanganan Deklarasi Visi Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua yang dikenal dengan Deklarasi Manokwari. Deklarasi ini sebagai awal dari upaya mendorong pembangunan berkelanjutan sesuai 14 Poin Visi ICBE 2018.''

Manokwari ( arfaknews.com ) - Penyelenggaraan Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi Kreatif (ICBE) 2018 resmi ditutup dengan dibacakannya Deklarasi manokwari yang disepakati oleh Provinsi Papua dan Papua Barat. Deklarasi tersebut merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani oleh kedua Provinsi pada saat pembukaan ajang tersebut, Minggu (7 Oktober 2018) lalu.

Deklarasi Manokwari memiliki visi bersama Tanah Papua yaitu ‘Tanah Papua Damai,Berkelanjutan, Lestari dan Bermartabat. Dari visi itu dispesifikan menjadi 14 poin yang merupakan hasil konferensi ICBE 2018.

Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan dalam sambutan penutupan ICBE 2018, Kamis (11/10) menyatakan Konferensi, ini akan menjadi awal dari pekerjaan yang besar di Tanah Papua untuk mewujudkan 14 poin visi ICBE 2018.

“Seperti penyelesaian Perdasus (Peraturan Daerah Khusus) pembangunan berkelanjutan diProvinsi Papua Barat dan Perdasus pengakuan Hak Masyarakat Hukum Adat, penyelesaian revisi RTRW (Rancangan Tata Ruang dan Wilayah), penyelesaian revisi proses pemberian perizinan konversi lahan, dan kalau dianggap perlu menyusun Perdasus untuk pengaturan pemberian izin konversi lahan yang melibatkan masyarakat pemilik lahan,” terang dia.

Dia menyebutkan, Deklarasi Manokwari merupakan dasar dan arahan utama dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Untuk itu Ia meminta semua komponen yang terlibat didalam Konferensi ICBE untuk bekerjasama dalam pengimplementasian deklarasi tersebut.

“Kalau kita bekerjasama dengan baik, maka kita bisa kerjakan pekerjaan sesulit apapun,” ucap Dominggus memberi semangat.

Salah satu poin dalam kesimpulan tersebut ialah membentuk Museum Sejarah Alam dan Kebun Raya di Tanah Papua demi menunjang upaya konservasi dan penampungan koleksi, penelitian dan peningkatan pemahaman dan apresiasi tentang keanekaragaman hayati dan alam dan budaya Papua. hal itu secara khusus termaktub dalam poin keenam deklarasi tersebut.

Pembangunan Museum itu juga didorong dalam sesi yang berlangsung di hari terakhir ICBE 2018, Pendirian bangunan edukasi tersebut diyakini dapat menjadi salah satu instrumen pendukung niatan Pembangunan Berkelanjutan yang bakal digenjot kedua Provinsi.

Ketua Dua Tim Kerja ICBE 2018 Keliopas Krey menyatakan, Museum dapat menjadi bank data dan sarana edukasi terhadap hasil penelitian di Tanah Papua. Sehingga tiap kebijakan dapat mengacu pada kajian-kajian ilmiah yang ada.

“Sehingga data-data yang selama ini sulit diakses dan tersebar di mana-mana itu bisa dihimpun di museum ini. Sehingga semua siswa dari TK sampai Perguruan Tinggi mereka bisa datang untuk akses informasi data-data koleksi spesimen dan budaya kita di museum ini,” ucap dia.

Menurutnya, adanya museum juga dapat memperkuat budaya meneliti di Tanah Papua. Dengan demikian, kekayaan Tanah Papua yang masih minim eksplorasi sebelumnya dapat terkuak dan dijadikan dalam satu wadah. Pembangunan museum juga penting, pasalnya, Papua sendiri mengandung 50 persen keanekaragaman hayati di Indonesia.

“Tapi kami harap ada juga regulasi yang akan mengatur pendanaan penelitian di Papua ini. Karena urusan penelitian ini kerap kesulitan dana juga,” tuturnya Keliopas.

Sementara Kepala Bidang Zoologi Lembaga Penelituan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Indonesia Hari Sutrisno dalam salah satu sesi mendorong diwujudkannya pembangunan museum di tanah Papua.

Menurutnya, Penelitian penelitian yang cukup banyak di tanah Papua dari kalangan akademisi lokal hingga peneliti asing dapat diakomodir dalam satu wadah.

“Penelitian di tanah Papua ini banyak dan bisa dijadikan ke dalam satu koleksi museum. kita harapkan nanti mereka jadi satelitnya yang di Bogor, jadi mereka merupakan satu dengan kami tapi mereka adalah satelitnya,” ucap Hari.

Hari menyarankan, agar Museum juga dibarengi dengan pembangunan Kebun Raya seperti yang termuat dalam deklarasi. Hal itu demi mengincar banyaknya pengunjung.

Editor : Rizaldy

Berita Terkait