Puskesmas Bintuni Targetkan 5000 Jiwa Konsumsi Obat Pencegahan Kaki Gajah

Oleh Wawan Gunawan

11 October 2018 07:01 258 VIew

''Kepala Puskesmas Bintuni Ferdinan Mangalik. | Kamis (11/10) | Foto : arfaknews.com | Wawan Gunawan''

Bintuni, arfaknews.com - Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesemas) Bintuni menargetkan pemberian obat pencegahan penularan penyakit Filariasis Limfatik atau Elephantiasis (penyakit kaki gajah) kepada 5000 jiwa warga yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas itu.

Kepala Puskesmas Bintuni Ferdinan Mangalik, Kamis (11/10) mengatakan, Bulan Oktober 2018 ini merupakan tahun ke tiga pencanangan bulan eliminasi penyakit kaki gajah secara nasional dan akan berakhir di bulan yang sama pada tahun 2019.

''Khusus wilayah kerja puskesmas Bintuni, kami mempunyai target 5000 jiwa, yang harus bebas dari penyakit filariasis. target itu harus tercapai," kata Mangalik di ruang kerjanya.

Kabupaten Teluk Bintuni terang Mangalik, merupakan daerah endemis penyebaran penyakit kaki gajah. dimana sebagai daerah yang hampir 75 persen merupakan daerah rawa yang dipenuhi tanaman mangrove, berpotensi sebagai tempat berkembang biak cacing filaria. Meskipun sebagai daerah endemik cacing filaria, lanjut Mangalik, hingga kini belum ditemukan adanya kasus penyakit kaki gajah kronis.

''Sudah seminggu ini kami melaksanakan program pencegahan. Sampai saat ini belum ada pasien yang disinyalir positif terkena penyakit tersebut, kalau indikasi serta tanda-tanda mengarah terjangkit itu ada,'' ucapnya.

Selama bulan Oktober 2018, Pihaknya terus menggalakan gerakan eliminasi penyakit kaki gajah dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah. langkah itu dilakukan untuk memastikan semua warga meminum obat Diethyl Carbamazin Citrate yang dikombinasikan dengan Albenzol.

''Obat tersebut diminum setahun sekali selama 5 tahun, untuk mencegah atau penularanya. dengan meminum obat tersebut kita dapat terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk dan serangga yang membawa virus elephantiasis.

Editor : Rizaldy

Berita Terkait