Miris, SD di Kabupaten Yapen ini ‘Libur’ Setahun

Oleh Charles Maniani

10 January 2019 07:01 759 VIew

''Foto Ilustrasi Pendidikan di Tanah Papua''

Kepulaun Yapen, arfaknews.com – Liburan Natal dan Tahun Baru telah usai dan saatnya aktivitas belajar-mengajar kembali aktif. Sayangnya hal ini tidak berlaku di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Yapen, Papua.

Nasib 50 murid SD Inpres Sasawa terkatung-katung lantaran sekolah di Kampung Sasawa, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua ini, belum aktif belajar.

Mirisnya, aktivitas belajar di sekolah ini terhitung macet sejak Tahun Ajaran Baru 2018/2019 lalu. Dalam hitungan dua semester, sekolah ini tak berjalan seperti biasanya.

“Kepala sekolah terlalu sibuk. Aktivitas belajar-mengajar tidak aktif selama satu tahun,” ungkap Lanius K, guru SD Inpres Sasawa, Kamis (10/1) di kota Serui.

Kepada arfaknews.com, ia mengaku tidak ada pembagian dari kelas 1-6, karena semua murid digabung dalam satu kelas. Karena sekolah tidak berjalan, pembagian raport pun tidak dilakukan dan tak ada penerimaan murid baru.

Disisi lain, kondisi sekolah juga sangat memprihatinkan dengan tingginya rumput yang nyaris menutup atap sekolah.

“Satu semester hanya sekali saja kepsek hadir di bulan Desember tanggal 4 dan sempat datang mengecek persiapan saat Ujian Nasional,” bebernya.

Ia mengaku pelaksanaan ulangan umum atau ujian kadang dipaksakan. Apalagi, sebagian besar murid di sekolah ini belum mampu membaca dan menulis.

Selain Lanius, SD Inpres Sasawa memiliki tiga tenaga guru, namun aktivitas sekolah yang macet memaksa mereka juga tidak hadir ke sekolah.

“Hampir semua orang tua murid mengeluh akibat sekolah macet. Akibatnya, anak-anak sekarang mengikuti orang tuanya. Kami harap ada langkah bijak dari Pemkab Yapen, kasihan masa depan anak-anak ini,” harapnya.

Senada, Kepala Kampung Sasawa, Nahor Upuya, mengaku hal ini sudah pernah dilaporkan kepada dinas terkait, termasuk Bupati, Dandim dan Kapolres, saat melakukan kunjungan kerja.

“Tetapi saya juga kurang tahu, kenapa sampai hal ini masih berlanjut sampai sekarang. Anak-anak ini membutuhkan pendidikan dan ini harus segara ditanggapi,” tegasnya.

Dirinya juga membenarkan jika rumput sudah menutupi sebagian bangunan sekolah, bahkan lebih tinggi dari atap sekolah.

“Kami (pemerintah kampung) kesal lantar anak-anak di Sasawa, tidak belajar dan tidak mendapat pendidikan dengan baik selama satu tahun,” paparnya.

 

 

Berita Terkait