Mengenal Patrix Barumbun Tandirerung, Dari, Aktifis, Jurnalis, kini Menjadi Politisi Muda Manokwari

Oleh Ical

26 February 2019 12:12 2924 VIew

''Patrix Barumbun Tandirerung''

Oleh : M. Rizaldy |Jurnalis arfaknews.com

Hari ini, Selasa, 26 Februari 2019, bukan suatu kebetulan saya bertemu dengan seorang pemuda enerjik berperawakan santun, dan bersahaja, pemuda yang mengawali jejak aktifismenya mulai dari aktifis mahasiswa kampus merah manokwari, penggerak gerakan kepemudaan, gerakan literasi dan mentor yang baik dalam sejumlah diskursus, sosok yang sudah tidak asing dikalangan aktifis mahasiswa, LSM dan politisi ini karib disapa bang Che alias Patix Barumbun Tandirerung.

Dia adalah Patrix Barumbun Tandirerung, politisi muda yang penuh gagasan dan menjadi inspirasi kaula muda Manokwari ini, sekarang menjabat sebagai ketia Dewan Pimpinan Cabang Partai Solidaritas Indonesia.

Di usia 36 tahun, bang Patrix didapuk menjadi ketua umum Partai Solidaritas Indonesia sesaat sebelum verifikasi partai politik di Manokwari. Di tangan dinginnya, PSI Manokwari berhasil lolos dan menjadi Parpol pertama yang mendaftar ke KPU.

"Awalnya DPP ingin agar kami menyeleksi bakal cm BBM9p Caleg lewat panelis independen. Kami sudah menghubungi beberapa tokoh. Tapi karena sempitnya waktu, DPP memberi mandat kepada DPD untuk menilai kelayakan caleg yang akan diusung. Banyak indikator yang kami nilai sebelum memutuskan 25 caleg yang diusung oleh PSI untuk DPRD Manokwari. Kami sama sekali tak memungut mahar," jelasnya.

"Sesudah itu, mereka juga meneken pakta integritas. Jadi jika terpilih mereka harus bekerja berdasar garis ideologi partai." katanya menambahkan.

Dalam jagat politik di Manokwari, Patrix sebenarnya bukan orang baru. Tahun 2014 lalu, ia diusung sebagai Caleg Partai Golkar. Di Partai beringin ini, ia juga didapuk dalam posisi mentereng, sebagai Wakil Ketua bidang Kaderisasi dan Keanggotaan.

Namun dinamika internal partai beringin, membuatnya merasa lebih nyaman melabuhkan pilihan politiknya pada partai baru yang dibentuk oleh anak-anak muda, Partai Solidaritas Indonesia. Pilihannya bukan tanpa cibiran.

"Banyak yang bilang PSI tidak bakal lolos verifikasi. Buktinya lolos. Ada lagi yang bilang tidak bakal diminati oleh politisi. Faktanya PSI menjadi salah satu parpol dengan jumlah Caleg terbanyak untuk DPR RI. Semuanya diseleksi.Di Manokwari, kami mengisi 100 persen kuota caleg. Lalu muncul lagi cibirian soal elektabilitas bahwa PSI adalah partai nol koma. Buktinya, survey terbaru menunjukkan PSI telah melampaui ambang batas Parliamentry Treshold 4 persen. Jadi saya santai saja, sembari fokus melancarkan sosialisasi. Meyakinkan pemilih bahwa PSI adalah partai alternatif terbaik," ceritanya.

Patrix Barumbun Tandirerung lahir dalam sebuah keluarga sederhana 19 Oktober 1982 silam di Penanda, sebuah dusun kecil di Toraja Utara. Patrix adalah anak pertama dari pasangan Tilang Tangdirerung-- kini budayawan dan tokoh masyarakat adat Toraja yang lebih dikenal sebagai Pong Barumbun-- dan ibu Nuraini Danduru-Banneringgi.

Selepas SMA di SMA Hasanuddin Makassar, ia kemudian memilih melanjutkan studi di Manokwari tepatnya Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari.

Jejak sebagai aktivis, mulai terukir saat Patrix mukai kuliah di "kampus merah" 1999 silam. "Saya masuk kampus setahun sesudah Soeharto lengser. Saat masih di Makassar saya sudah mengenali dunia aktivisme lewat beberapa sepupu yang kuliah di sana. Saya sangat mengidolakan Budiman Sudjatmiko, Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD). Saya suka melihat dinamika pergerakan mahasiswa ketika itu. Ada sesuatu yang heroik ketika mereka turun ke jalan. Rupanya itu "meracuni" saya lebih dini," katanya.

Aktivisme dan Profesi

Ketika kuliah, ia segera bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisaritas STIH Manokwari. Disinilah potensi kepemimpinan dan sikap organisatorisnya digembleng baik lewat pelatihan-pelatihan, maupun saat terjun langsung memimpin HMI. Ia juga aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa STIH Manokwari. Ia pernah mengorganisir sebuah pergerakan bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Papua untuk Keadilan dan Demokrasi (KAMPAK), yang ketika itu dibentuk bersama sejumlah kolega mahasiswanya di kantor Pos Kontak eLSHAM di Fanindi.

Patrix bersahabat dengan hampir semua eksponen mahasiswa Manokwari di jamannya. Misalnya Dedy S. May (Kini Ketua DPRD Manokwari dari Partai Golkar yang juga mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia/GMKI Cabang Manokwari), Almarhum Matius Beljai, Ketua PMKRI Manokwari dan mantan pengurus pusat PMKRI, Arif Arbianto, Ketua Umum KAMMI Manokwari, Dony Mandacan (Aktivis Mahasiswa UNIPA/ salah satu Pendiri KAMPAK), Trisep Kambuaya (Presiden Mahasiswa UNIPA) dan banyak lagi.

Ia juga dekat dengan sejumlah aktivis pro demokrasi, baik dari LSM, sejumlah akademisi, aktivis Papua dan lainnya. Ia pernah aktif di Jaringan Advokasi Sosial dan Lingkungan (Jasoil) yang dipimpin oleh Pietsauw Amafnini; ikut andil dan pendirian Jaringan Advokasi Kebijakan dan Anggaran (Jangkar) yang dipimpin oleh advokat senior, Metuzalak Awom dan lainnya. Lingkungan pergaulan inilah yang membentuk orientasi dan kapasitas politiknya.

Soalnya, selain berkutat dengan isu-isu publik, para senior yang aktif di lembaga-lembaga masyarakat sipil juga merupakan rekan berjuang dan yang paling penting, belajar yg baik.

Saat semester tiga di Manokwari, atas ajakan seniornya, alm.Tobias "Bob" Retuadan Patrix sempat bergabung sebagai sekretaris Dewan Eksekutif Cabang dalam Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI). PUDI adalah salah satu partai bawah tanah yang aktif melawan orde baru sebelum keruntuhannya. Sayangnya, ia harus memilih antara aktif di Partai Politik atau pergerakan mahasiswa (HMI).

"Saya meninggalkan PUDI karena merasa belum memiliki kecakapan dan modal sosial yang cukup untuk masuk kedalam politik praktis. Waktu itu saya mencoba membantu bang Bob (Tobias) untuk mengaktifkan kembali PUDI, tapi akhirnya tidak lolos verifikasi. Seingat saya beliau juga akhirnya memilih bergabung di PSI (Partai Syarikat Indonesia) sebelum bergabung di Gerindra," kenangnya.

Sejak menjadi aktivis HMI, Patrix mulai dikenal di dunia kepemudaan di Manokwari. Hal yang kelak mengantarnya menjadi Wakil Ketua DPD KNPI Papua Barat serta aktif di berbagai organisasi kepemudaan.

Selain berkutat dalam pergerakan, Patrix juga merupakan mahasiswa yang aktif menulis. Di HMI ia membuat sebuah buletin di komisariatnya. Ia juga pernah tercatat sebagai Wasekjend Bakornas Lembaga Pers Mahasiswa Islam- PB HMI. Hingga kemudian bakatnya itu diarahkan oleh Mus Mualim, Pemimpin Redaksi Media Papua yang menerimanya tanpa banyak pertimbangan sebagai jurnalis.

Jadi saya sudah bekerja sebagai jurnalis sejak semester akhir kuliah," katanya. Setahun bekerja di Media Papua, Patrix kemudian pindah ke Harian Cahaya Papua. Awalnya ia diterima sebagai calon reporter. Namun bakatnya membuatnya melejit dengan cepat dari reporter, kepala biro, Koordinator Liputan, Redaktur, Redaktur Pelaksana, Wakil Pemimpin Umum hingga Pemimpin Redaksi hanya dalam 6 tahun, selama bekerja di media ini.

Ia mewawancarai banyak tokoh lokal maupun nasional yang penting selama menjadi jurnalis. Ia juga pernah melakukan investigasi dan bersikap kritis terhadap PTPN II Prafi, sebuah perusahaan sawit milik negara yang beroperasi di Manokwari hingga perusahaan itu hengkang dari Manokwari dengan meninggalkan setumpuk masalah sosial dan lingkungan. Harus diakui bahwa banyak perubahan-perubahan yang lahir dari agenda setting terutama dalam hal layanan publik yang dibangun oleh Cahaya Papua semasa kepemimpinannya.

"Ada dua jenis kepuasan batin menjadi jurnalis. Pertama, kita menjadi saksi dari sebuah peristiwa ekslusif yang belum diketahui oleh publik. Kedua, saat melihat perubahan pada hal-hal yang menjadi fokus agenda setting terutama jika itu berkaitan dengan layanan publik, misalnya ketika jalan rusak diperbaiki, pasar rakyat dibangun, semacam itu...." ucapnya.

Di dapur redaksi, Patrix adalah sosok pemimpin yang "galak" tapi piawai mengelola konflik dan meramu agenda setting. Banyak jurnalis muda berbakat di Manokwari yang merupakan hasil didikannya. Ia juga aktif mengampanyekan kebebasan pers dan literasi. Hingga saat ini ia masih sering mengisi materi pada pelatihan-pelatihan jurnalistik yang digelar oleh organisasi-organisasi kepemudaan.

"Ada dua manfaat dalam pelatihan-pelatihan jurnalistik. Pertama media bisa menyemai calon-calon jurnalis bermutu. Kedua, kita mengenalkan jurnalisme dan kebebasan pers lebih dini ke kaum muda. Meyakinkan mereka bahwa menulis adalah kegiatan yang niscaya dilakukan oleh seorang intelektual," kata pengagum tokoh revolusioner, Ernesto Che Guevara ini.

Semasa menjadi jurnalis, ia juga dekat dengan sejumlah aktivis senior yang dianggapnya sebagai "mentor" sekaligus sekutu perjuangan.

Namun ketika ia memilih menjadi politisi, maka perannya di dapur redaksi pun terhenti. Ini pilihan yang menurutnya sulit tapi harus diambil. "Saat ini saya masih tercatat non aktif atas permintaan sendiri. Peran sebagai Pemred dijalankan oleh redaktur pelaksana untuk menjamin agar media kami tetap independen," jelasnya.

Di luar aktivitas profesionalnya, pria yang hobby membaca dan bermain catur ini juga aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan. Hal yang memberinya pondasi modal sosial yang cukup di lapangan politik. Bermodal kecakapan organisatoris, dalam satu masa ia didapuk pada sejumlah posisi penting. Ia adalah ketua bidang organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi-Selatan (KKSS) Manokwari, Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Manokwari, Wakil Sekretaris Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKL-Raya) Manokwari, Penasehat Ikatan Pemuda Toraja Manokwari serta Dewan Pembina Ikatan Pemuda Luwu Raya Papua Barat. Patrix juga aktif dalam gerakan buruh.

Di tempatnya bekerja ia mendorong pendirian serikat pekerja, dan saat ini merupakan salah satu anggota pleno Pengurus Pusat Gabungan Serikat Buruh Seluruh Indonesia (GSBI), sebuah organisasi buruh di Indonesia yang lantang menyuarakan penghentian politik upah murah.

Bagi Patrix, politik adalah ruang untuk melembagakan akal sehat yang didedikasikan untuk kepentingan publik. Politik, baginya adalah sebuah seni (mengelola peluang), yang bisa dinikmati. Filosofi yang membuatnya terlihat nyaman begitu menjiwai tugas-tugas politiknya sebagai kader dan pemimpin Partai Solidaritas Indonesia di Manokwari.

Saat ini Patrix juga mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Manokwari. Dalam Daftar Calon Tetap yang dirilis KPU beberapa waktu lalu, Patrix berada di nomor urut 1 dan bertarung di Dapil 2 (Wosi, Sanggeng, Ingramui, Udopi, Soribo dan Binirauw) dari partai berlambang mawar ini. Awalnya, Patrix berpikir hanya ingin menjadi eksekutif/pengurus partai. Namun atas rekomendasi dan mandat sejumlah komunitas, tokoh, dorongan para sahabat dan dukungan keluarga ia pun akhirnya maju dan memantapkan diri sebagai salah satu calon politik yang layak diperhitungkan pada Pemilu legislatif 2019 di Manokwari.

Meski terbilang populer, ia aktif blusukan dan melakukan canvassing (kampanye dari rumah ke rumah) untuk menggalang dukungan dan isu-isu publik. Di Media sosial, Patrix juga mendapat dukungan dan apresiasi yang positif dari para netizen terutama kaum muda.

Menurut Patrix, banyak yang berpikir seolah menjadi Calon Politik itu mudah. Padahal konsekuensi dan pengorbanannya cukup besar. Waktu, biaya, energi dan lainnya. "Tapi saya tetap menikmatinya. Bagi saya politik itu jalan ibadah, panggilan suci. Jika kita ditakdirkan mengambil jalan pedang di jalur politik, ya harus dijalani. Dilakoni dengan sungguh," katanya.


Berita Terkait