Seorang Prajurit Tak Boleh Buta Warna dan Gangguan Psikologi

Oleh Jams Aisoki

02 March 2019 07:01 673 VIew

''Pangdam XVII Kasuari, Mayjen Joppy Onesimus Wayangkau''

Manokwari arfaknews.com, Banyak anak-anak papua yang tidak lolos dalam seleksi Tamtama TNI, dikarenakan gangguan kesehatan yang dialami oleh yang bersangkutan.

Pangdam XVI Kasuari, Mayjen Joppy O. Wayangkau mengungkap jika seseorang buta warna dan mengalami gangguan psikologi, maka yang bersangkutan tak akan diterima.

Saat ini,  tim seleksi telah turun ke daerah-daerah untuk rekuitmen calon Tamtama. Dab Kalau saya harapkan kalau bisa semua itu anak Papua, tetapi secara pribadi saya juga tidak bisa meninggalkan ketentuan yang digariskan oleh Pimpinan TNI Angkatan Darat sebagai standar. Sehingga saya harus seleksi,  kalau bisa semua anak Papua itu lulus,  tapi kalau ngga lulus seleksi sesuai standar minimum maka saya harus hambil dari luar, karena itu dihimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan anak-anaknya.

"Memang ini prioritas tetapi tidak prioritas untuk semua orang, prioritas bagi yang memenuhi persyaratan. Misalnya, kalau dia tidak sehat itu berbahaya bagi dia. Dan sehat ini ditentukan oleh Tim yang memeriksa, bukan dites di puskesmas, melainkan tim kita yang memeriksa karena itu ada kriteria yang harus dipenuhi"

"Mungkin di Dokter umum yang bersangkutan dinyatakan sehat, tetapi yang bersangkutan belum tentu sehat untuk menjadi prajurit, karena itu ada catatan-catatan khusus yang harus dia penuhi".

"Untuk anak-anak Papua, saya yang seleksi terakhir, saya yang melihat,  jadi mereka seleksi di daerah, kemudian dibawa masuk ke kodam. Dan dari semua data, saya periksa dan biasa saya periksa satu per satu, saya lihat orangnya kalau bisa kita angkat,  kalau tidak bisa kita kembalikan, mungkin dia bisa persiapkan diri lagi untuk berikutnya tetapi kalau kesehatannya itu menyakut hal dua mendasar maka saya tidak bisa terima". Ucapnya saat diwawancarai, Kamis (28/2).

"Mungkin saya harus jelaskan, ada hal-hal yang menjadi standar dalam kesehatan, dari pandangan orang awam akan merasa sehat seperti buta warna dan Psikologi, buta warna ini orang sehat tidak ada kendala, tetapi dia tidak bisa membedakan warna-warna tertentu. Di Militer tidak boleh, itu sangat berbahaya, berbaya untuk yang bersangkutan dan berbahaya untuk teman-temannya dalam kedinasan.

"Kita dimiliter ini bermain dengan bahaya, sebab kita bermain dengan bahan peledak dan amunisi, kalau dia tidak bisa membedakan warna itu berbahaya bagi dia dan orang lain, sehingga kita harus betul-betul menyeleksi ini".

Masalah yang lainnya adalah psikologi, dan kalau psykologi kita tidak bisa paksakan, misalnya orang suka gugup dan kaget, itu tidak boleh, karena kalau yang bersangkutan gugut saat pegang senjata dia dapat menembak orang lain dan itu ada standar untuk kita periksa. Hal ini banyak keluarga tanya saya, bagaimana ini sehat, ini begini kenapa tidak masuk, sebenarnya ada hal-hal, kecil yang tdk tampak dimata dan kalau periksa di dokter umum, itu sehat tetapi bagi kita, hal itu tidak boleh, karena berbahaya". Jelasnya.

Berita Terkait