Mahasiswa Lakukan Aksi Demo, Pertanyakan Seminar Nasional Di Unipa

Oleh Jams Aisoki

15 March 2019 07:01 545 VIew

''Mahasiswa lakukan aksi demo di kampus Unipa''

Manokwari arfaknews. Com – Sekelompok mahasiswa tergabung dalam forum mahasiswa Peduli Kampus Unipa, mempertanyakan digelarnya Seminar Nasional bertema tantangan dan Harapan Pembangunan Pendidikan, Kesehatan dan Ketenagakerjaan dan Kebudayaan di Papua dan Papua Barat. digelar Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia.

Dalam aksinya, mahasiswa membentangkan Spanduk bertuliskan, "Papua Zona Darurat dari aspek pendidikan, Kesehatan dan Budaya".

Kordinator aksi Forum Peduli Kampus Unipa, Yali Halitopo menerangkan kehadiran Jajaran Kantor Staf kepresidenan di Manokwari cukup penting dalam melihat langsung kondisi realita Masyarakat dan masalah pendidikan dan kesehatan dialami oleh Masyarakat di Papua.

Datang ini staf kepresidenan, harus ada informasi terbuka terkait semanar Nasional ini kepada publik, namun yang hadir ini hanya elit-elit kepentingan, tetapi masyarakat adat selalu menghadapi masalah kesehatan, pendidikan, tidak dilibatkan, karena itu kami pertanyakan kenapa staf ahli tidak ketemu langsung dengan masyarakat kecil, kenapa harus dilakukan seminar di ruang tertutup, apakah ini ada suatu kepentingan tersembunyi, ujar pendemo.

Aksi spontan ini untuk pertanyakan hal tersebut, agar jika ada kegiatan bertemakan nasional harus melibatkan hanyak pihak termasuk mahasiswa.

Kami juga meminta kepada presiden Joko Widodo, agar pendidikan dan Kesehatan di Tanah Papua Harus Gratis". Ucap Yali, Selesa (12/3).

Menanggapi aksi Mahasiswa, staf ahli Presiden, Fahd Pahdepia menerangkan kegiatan ini tidak ada hubungan dengan Kegiatan Politik. Kehadiran pihaknya ke Kampus Unipa selama ini, image publik menilai perwakilan Pemerintah Pusat di daerah adalah Pemda dan jejaringnya kebawah, padahal kita lupa kampus itu juga perwakilan pemerintah pusat di daerah bertugas mencerdaskan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat,  dan kordinasinya sampai ke Kemenrisetdikti yang merupakan bagian dari Pemerintah Pusat. Karena itu, kita mau menghidupkan kampus ini sebagai pusat mendengarkan aspirasi dan gagasan.

Kampus ini jangan hanya sibuk dengan mengajar, membuat penelitian tetapi juga gagasan dan masukan kepada pemerintah itu langsung bisa didengarkan. Makanya, kita gelar acara-acara macam ini dikampus-kampus., ucapnya

Kita punya komitmen untuk itu, fungsi dari kantor staf presiden ini debatle making, untuk menyelesaikan sesuatu yang tersumbat, makanya kita undang Polisi, TNI, perwakilan dari intelektual, tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk rembuk dan memberikan solusi atau pikiran dari mereka untuk kita dengarkan secara langsung dan bisa kita sarikan menjadi rekomendasi di Pemerintah Pusat. Ujarnya

Kaitan dengan Demo aksi Spontan Mahasisw, kata Fahd, aksi dilakukan mahasiswa ini bagus, mungkin hanya salah komunikasi saja. Mahasiswa ini bertanya kenapa acara ini bukan seminar umum atau seminar terbuka, dan kita pasti akan bikin seminar terbuka tetapikan format acaranya bukan seperti ini.

Untuk Seminar ini, tujuannya untuk mendengarkan, melihat kegiatan diatas dari moderator, pembicara, dosen Papua dan membahas masalah papua, karena kami datang untuk mendengar,  bukan untuk bicara, ungkapnya

Diterangkan, ketika kita simak,  sambutan dari wakil Gubernur Papua Barat, otsus di Papua ini sudah 17 Tahun, triliunan dananya setiap tahun, namun indeks Pembanguan Manusia Papua ini nomor 34, Papua Barat nomor 33 dan NTT nomor 32, coba dipikirkan NTT yang tdk dapat ostsus IMP nya bisa bagus, harusnya papua dapat otsus mengalami lompatan bukan kenaikan, makanya kita mau tahu masalahnya ada dimana, kita mau dengarkan juga sehingga perbaikan dan percepatan pembangunan Pendidikan kesehatan di Papua bisa dipastikan dalam waktu-waktu mendatang.

Kita kemarin dari Uncen Papua dan saat ini kita di Unipa Manokwari dan juga kita akan ke Aceh,  kita akan ke daerah-daerah yang butuh perhatian, karena kami sadar Indonesia ini bukan Jakarta, Indonesia ini bukan jawa, karena itu Presiden Jokowi punya kebijakan Indonesia Sentris, karena itu kita harus hadir di daerah-daerah.

Indonesia ini pembangunanya selama bertahun-tahun terkonsentrasi di Jawa, di Jakarta makanya kita harus hadir di daerah-daerah untuk kita percepat,  kita datang ke Aceh,  kita datang ke Papua, sampai belasan kali. Pemerintah pusat di era ini, kita berpuluh-puluh kali datang ke Papua untuk menunjukan bahwa kita berkomitmen  membangun papua". Tutupnya

Berita Terkait