Tak Ditanggapi, Yayasan Bejana Kembali Somasi Martha Limahelu

Oleh James Aisoki

08 December 2019 15:01 252 VIew

''Harun Madabayan didampingi penasehat hukum dan Ketua Klasis Manokwari, Pdt. Yakob Mamaribo dan Perwakilan PGI menunjukkan Surat Hak Cipta dari Kemenkum HAM''

Manokwari, Arfaknews-com- Kisruh terkait pembuatan film “Mansinam: Man of The Man” terus bergulir. Yayasan Bejana yang mengklaim sebagai pemilik hak paten film tersebut bahkan berniat mensomasi Martha Limahelu karena mencantumkan nama Mansinam dan Ottow-Geisler dalam film yang tengah digarap bersama Papan Talent Management (PTM), PT Asa Daya Mediatama Production.

Government Affairs Manager Yayasan Bejana Indonesia, Harun Mandabayan, tegass mengancam akan menggugat siapa saja yang membuat film menggunakan nama Mansinam dan Ottow-Geisler. Sebab menurut Harun, film terkait Pekabaran Injil di Tanah Papua, sudah dipatenkan atas nama Yayasan Bejana sejak 14 April 2016. Hak Paten tersebut bahkan sudah disahkan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Harun menjelaskan, proses rencana pembuatan film dokumenter bertajuk masuknya Injil di Tanah Papua ini cukup panjang. Diawali saat peringatan HUT Pekabaran Injil di Mansinam. Ide pembuatan film ini kemudian didiskusikan bersama Robinson H dan Norman A serta sejumlah orang. “Dari diskusi itu, terbentuklah Yayasan Bejana sebagai badan hukum dan bertanggung jawab membuat film secara profesional,” kata Harun.

Bahkan, lanjut Harun pihaknya sudah bertemu Gubernur Papua Barat serta keturunan kelima Ottow dan Geissler kala mereka datang menghadiri HUT Pekabaran Injil. Proyek pembuatan film, juga sudah dipresentasekan di hadapan Sekda Papua Barat. Termasuk menunjuk sejumlah pihak sebagai penanggung jawab. “Maret 2019, kami melayangkan surat permintaan kerja sama dengan keluarga Ottwo Geiseler dan Keluarga Rumsayor. Isinya  mendukung penuh dan menunjuk Yayasan Bejana sebagai pemilik proyek MSM untuk memfilmkan sejarah kisah nyata keluarga mereka di tanah Papua, juga sebagai penanggung jawab pembuatan film bertajuk pekabaran Injil di Tanah Papua,” ungkap Harun.

Sementara itu, salah satu penasihat hukum Tim MSM, Yan Ch. Warinussy menyatakan sudah dua kali melayangkan somasi kepada Martha Limahelu. Jika somasi kali kembali tidak diindahkan, maka pihaknya tidak segan mengambil langkah hukum selanjutnya. “Kami kuatirkan, jika sudah ada MoU dengan pemerintah daerah, justru akan ada persoalan hukum. Terutama terkait penggunaan istilah Mansinam maupun Ottow-Geisler,” ujar Warinussy.

Ketua Klasis Manokwari, Pdt. Yakob Mamoribo, menyambut baik rencana pembuatan film dokumenter tersebut. Dia mengaku mendukung sepenuhnya Yayasan Bejana sebagai pemilik hak Cipta  pembuatan film ini. “Sebagai perpanjangan tangan dari BP AM Sinode GKI, kami akan menyampaikan kepada pihak-pihak yang berkompeten baik masyarakat  maupun pemerintah agar tidak terjebak dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Mamoribu.

Sementara, hingga berita ini dimuat belum ada tanggapan resmi dari Direktur PTM  PT. Asa Daya Mediatama Production, Martha Limahelu.


Berita Terkait