3 Tahun Tak Terima Mahasiswa Baru, UNIPA dan Pemda SORSEL Diminta Perhatikan Nasib Kampus Akness

Oleh Redaksi

29 July 2020 02:10 597 VIew

''Mahasiswa Gelar Aksi Minta Pemda SORSEL dan UNIPA seriusi masalah Kampus Akness ''

Manokwari, arfaknews - Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan (Sorsel) dan Universitas Papua (Unipa) sebagai induk kampus Akademi Komunitas Negeri Sorong Selatan (Akness) diminta seriusi nasib kampus Akness.

Salah Satu Staf Pengelola Akness, Thomas Yater, SP. MP., menerangkan komitmen awal Pemerintah Kabupatan Sorong Selatan, Universitas Papua dan Kemenristek untuk mendirikan kampus Akness pada tahun 2014 sebagai akademi yang beorientasi dalam pengembangan komoditi lokal Sagu.

Namun hingga kini, Komitemen itu mulai jauh dari harapan, pasalnya minim dukungan dan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan dalam mengembangkan Kampus Akness sebagai salah satu sekolah tinggi di daerah.

Padahal kata Yater, sejak beroperasi, kampus ini  telah menghasilkan beberapa lulusan yang terserap di Kabupaten Sorong Selatan, baik di Dinas pertanian, Penyuluhan dan Tanaman Pangan, maupun sebagai staf pengajar di TK, SD,  dan bahkan ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang D3 dan S1 di UNIPA.

Saat ini Kampus Akness minim dukungan Pendanaan dari Pemkab Sorsel mengakibatkan manajemen Kampus tidak membuka  penerimaan mahasiswa baru dan proses pembelajaran dihentikan total sampai jangka waktu yang tidak ditentukan, " ucap Thomas Yater dalam realis yang diterima media ini, Selasa (28/07).

Yater menjelaskan secara kelembagaan, Kampus Induk UNIPA siap mendukung  pengembangan potensi Sagu sebagai komoditi unggulan di Kabupaten Sorsel Provinsi Papua Barat guna meningkatkan Sagu sebagai produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. 

Kami berharap perlu dipersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul melalui lembaga pendidikan yang ada, pasalnya dalam roadmap pengembangan kampus telah mencanangkan sepuluh sampai lima belas tahun kedepan, kampus Akness tidak hanya menjadi pusat pembelajaran semata tetapi direncanakan juga sebagai  pusat riset teknologi Sagu mulai dari hulu hingga hilir.

Senada Alumni Kampus Akness, Kristian Tugakeri mengatakan, sebagai alumnus dirinya menyayangkan sikap pemerintah daerah dalam mengembangkan lembaga pendidikan tinggi di Kabupaten berjuluk 1001 sungai ini.

Sejak 2018 hingga penerimaan tahun ajaran 2020, banyak mahasiswa baru  ingin mendaftar di Kampus Akness namun tidak ada informasi penerimaan mahasiswa baru karena tidak ada biaya operasional.

"Saya berharap Kampus Akness terus dipertahankan dan dikelola secara baik agar terus memproduksi lulusan -  lulusan di daerah, agar kedepannya, Kampus Akness tidak hanya menjawab kebutuhan pendidikan pada jenjang D2 semata, namun dapat berkembang ke jenjang pendidikan S1 dan S2," harapnya.

Selain itu, pengelola kampus Akness, Helena Tuririday, menerangkan untuk memajukan Kampus, beberapa staf pengajar telah melanjutkan strata II guna mendukung SDM di Kampus Akness. 

Kami mendapat dukungan untuk meningkatkan kapasitas dengan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. 4 orang telah menyelesaikan S2, sementara 2 orang sekarang ada di UGM. "Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas SDM di kampus Akness," kata Helena

Pemerintah pusat telah menyediakan dana dan aset yang besar untuk mendukung pendirian kampus ini, namun jika dukungan terhenti dan kampus ini ditutup, maka kita semua akan rugi, bukan hanya Pemda Sorsel, masyarakat juga akan rugi karena tidak ada investasi SDM di daerah ini," pungkasnya


Berita Terkait