Larang Demo Merdeka, Rektor UNIPA Dinilai Membungkam Demokrasi Kampus

Oleh Redaksi

20 August 2020 09:09 3739 VIew

''Aloysius Siep, Mantan Presma UNIPA Periode 2014 -2015''

Manokwari - Rektor dinilai membungkam demokrasi Kampus Universitas Papua dengan rencana  membuat aturan -aturan yang membatasi kebebasan berekspresi mahasiswa.

Mantan Presma Unipa Periode 2014-2015, Aloysius Siep mengatakan pernyataan Rektor UNIPA, Dr. Mecky Sagrim pada tanggal 18 Agustus 2020 di Koran Radar Sorong, berjudul "Tidak Ada Tempat Bicara Papua Merdeka [di Kampus]".

Sebagai  mantan Presma dan aktivis di Kampus, kami merasa kesal dengan pernyataan rektor  untuk menerapkan kode etik terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

"Saya pikir membuat kode etik terkait  kehadiran mahasiswa itu wajar saja, namun disayangkan jika rektor bakal menerapkan aturan [kode etik],  melarang mahasiswa berekspresi dan menyampaikan pendapat di kampus," ucap Aloysius Siep, Kamis  (20/8/2020).

Menurutnya, Rektor seharusnya membuka ruang kepada  mahasiswa untuk  menyampaikan pendapat, mengawasi dan mengkritisi kinerja pemerintah.

"Aksi dilakukan mahasiswa karena ada sesuatu yang bagi mahasiswa dianggap tidak benar sehingga mahasiswa mau menyampaikan protes mereka dalam bentuk aksi. Dan hal itu wajar-wajar saja, tidak melanggar UU kok,"ujar Aloysius.

Disisi lain, Dia mengkritisi ucapan Rektor soal larangan berbicara Papua merdeka di Kampus Unipa. "Saya pikir mahasiswa tidak melawan negara, dan tidak harus dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, itu keliru. Beliau [Rektor ]  harus melihat histori lahirnya Uncen dan UNIPA," bebernya.

Aloysius menjelaskan selama ini mahasiswa teriak Papua merdeka sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas berbagai masalah yang kerap terjadi di tanah Papua, yang belum diselesaikan secara arif dan bijaksana.

Masalah itu semua orang Papua tahu bahkan kita yang baru lahir saja tahu persoalan ini, bahkan negarapun telah mengetahui bahwa ada masalah di Papua.

"Karena itu lembaga ilmiah, kampus harus mengkaji barang [masalah] itu. Kenapa sampai hari ini orang masih teriak Papua merdeka, berarti ada sesuatu yang tidak benar. Masalah itu tidak harus disembunyikan," bebernya.

Aloysius mengharapkan masalah itu harus dipahami baik agar tidak membuat pernyataan yang jadi bumerang di publik.

"Jangan karena pernyataan Rektor membuat masyarakat dan mahasiswa menjadi tidak simpati dan membangun benih kebencian terhadap rektor. Jangan kita mau jadi pahlawan namun kita lupa bahwa pernyataan itu membuat bumerang untuk kita sendiri" tuturnya.

Dia mengungkap, ditengah momentum berakhirnya Otsus, setiap pernyataan yang disampaikan para tokoh di Papua termasuk rektor  harus dipertimbangkan secara baik, apalagi menyinggung papua merdeka.

"Isu papua merdeka itu sangat sensitif, sama seperti pedang bermata dua, tajam muka belakang, maju kena mundur kena bisa menimbulkan konflik, karena itu saya harap bapa rektor harus berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan," ungkapnya.

"Apalagi masalah histori Papua yang berkepanjangan, disertai pelanggaran  HAM yang kerap terjadi di Papua, terjadi penembakan-penembakaan," tuturnya menambahkan.

Selain itu, Ia menjelaskan keterlibatan alumni sebagai bagian dari kampus dibawahi oleh Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Alumni, dengan demikian, tidak ada salahnya jika alumni merasa peduli dan ikut memberikan saran kepada Bapa Rektor yang adalah orang tua di Kampus.

Saya harap ruang demokrasi di Kampus harus dibuka seluas-luasnya kepada mahasiswa, berikan ruang untuk mereka [Mahasiswa] mengawasi dan mengkritisi kinerja pemerintah dan bersuara untuk masalah pelanggaran HAM dan berbagai masalah yang terjadi di Tanah Papua.

Terkait dengan kekuatiran mahasiswa akan melakukan aksi anarkis, Aloysius menampik bahwasannya mahasiswa bukan aktor anarkisme, mereka kaum terpelajar.

"Saya yakin mahasiswa tidak merusak kampus, mereka tidak merusak rumah mereka sendiri jika tidak ada sebab dan akibat. Saran saya kalau itu masalah internal kampus, masalah bapa dan anak, maka alangkah eloknya duduk bersama mencari solusi  dalam rumah," pintanya.

Aloysius meminta para dosen belajar dari sikap Mantan Rektor Unipa, prof Frans Wanggai, dan Y.P Karafir. Mereka berdua dinilai memahami mahasiswa, ketika ada persoalan dia [Mereka] turun tanya letak persoalannya.

"Saya harap, dosen itu bukan saja bertugas mengajar semata melainkan harus mendidik, sehingga mahasiswa yang malas- malas, kalau tidak rajin kalau bisa dikeluarkan," tukasnya.


Berita Terkait