Hewan Endemik Diujung Tanduk Investasi Hutan di Papua dan Maluku

Oleh Redaksi

23 March 2021 00:04 790 VIew

''Foto investasi Hutan Skala Luas/ sumber : Sosial Media''

Jakarta, arfaknews - Peringati Hari Hutan Sedunia, Yayasan EcoNusa berkolaborasi dengan Cornell Lab of Ornithology melakukan kampanye pelestarian Hutan di Papua dan Maluku dengan tema "Defending of Paradise." Tema ini dipilih karena Tanah Papua dan Maluku merupakan habitatnya burung Cenderawasih (The Bird of Paradise).

Bustar Maitar, CEO Yayasan EcoNusa mengatakan tema bertajuk Defending Paradise merupakan sebuah Kampanye yang diluncurkan untuk menjaga harmoni alam di Tanah Papua dan Maluku.

“Kita menyebut paradise, karena Papua dan Maluku ibarat sepenggal surga yang jatuh ke bumi. Karena Hutan dan laut Tanah Papua dan Maluku telah memberikan kehidupan margasatwa didalamnya termasuk anak - anak Adat Papua dan Maluku,"katanya.

Dia menerangkan bahwa Tanah Papua dan Maluku telah menjadi penjaga iklim terbesar saat ini di Indonesia dan dunia karena memiliki garis hutan yang cukup luas.

"Hutan ini harus dilestarikan karena merupakan aset yang harus dijaga sebagai rumah yang memberikan kehidupan bagi  anak-anak Adat Papua dan Maluku, serta berbagai jenis margasatwa didalamnya termasuk Burung Surga (The Birds of Paradise) yang menjadi ikon kampanye tahun ini,"ujarnya.

Bustar mengungkap berdasarkan buku Ekologi Papua, Tanah Papua menjadi rumah bagi 2.560 jenis ikan, 552 spesies burung, 191 mamalia, 150.000 serangga dan 15.000-20.000 spesies tumbuhan.

Dia juga membeberkan, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada periode 2018 - 2019  tutupan Hutan Tanah Papua paling terluas di Indonesia, namun  telah mengalami kehilangan hutan seluas 11.212,2 hektar di Provinsi Papua dan 5.296,1 hektar di Provinsi Papua Barat. Sedangkan di Kepulauan Maluku kehilangan tutupan hutan seluas 1.271,8 di Maluku dan 3.326,8 di Maluku Utara.

Disisi lain, berdasarkan Analisis Tim Riset EcoNusa, Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku total menempati area seluas 11,39 juta hektar. 86% dari total luas IUP tersebut berada di hutan alam primer.

Karena itu, jika hutan di seluruh area pertambangan di Tanah Papua ini dibuka, maka kemungkinan 10% hutan alam primer di Indonesia atau setara dengan 149 kali luas Ibukota DKI Jakarta akan hilang.

Ditambah lagi rencana pembukaan lumbung pangan di Tanah Papua akan mengkonversi 1.304, 574 hektare Kawasan hutan dan 744,777 hektar areal penggunaan lain di Kabupaten Merauke.

Rencana pengembangan lumbung pangan ini dinilai akan mengancam keberadaan nilai - nilai kehidupan sosial budaya, dan ekonomi suku-suku di Kabupaten Merauke, Mappi, dan Boven Digoel dan suku - suku lainnya.

Kehilangan hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku tak hanya mengancam keberadaan burung Cenderawasih sebagai satwa dilindungi dan identitas budaya masyarakat setempat, melainkan juga mengancam keberlangsungan seluruh rantai kehidupan dalam ekosistem.

Selanjutnya, Bustar menjelaskan dari 552 jenis Burung di Tanah Papua dan Maluku, 9 spesies cenderawasih merupakan burung endemik yang hanya dapat ditemui di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. 7 spesies cenderawasih endemik diantaranya hanya hidup di wilayah tertentu di Tanah Papua, sedangkan 2 spesies cenderawasih endemik lainnya hanya dapat ditemukan di Pulau Halmahera dan Pulau Obi Maluku Utara,"bebernya.

Sayangnya,  penebangan hutan, perluasan perkebunan skala besar, pertambangan dan
pembukaan lahan telah mengancam seluruh ekosistem alam yang merupakan pendukung utama penghidupan masyarakat adat dan penopang iklim dunia termasuk didalamnya mengganggu habitat dari burung Endemik Tanah Papua ini.

"Burung Cenderawasih semakin menghadapi ancaman nyata. Burung-burung surga ini terus kehilangan rumahnya," ujarnya

Cenderawasih kerap dijuluki sebagai burung surga atau bird of paradise karena keelokan bulunya dan gerakan eksotisnya. Bahkan beberapa budaya masyarakat adat di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku menyebutnya sebagai burung matahari atau burung dewata karena keindahannya yang tak tertandingi.

Secara ilmiah, Cenderawasih diklasifikasikan ke dalam keluarga Paradisaeidae. Data dari birdsoftheworld.org Cornell Lab of Ornithology, ada 42 spesies cenderawasih yang ada di seluruh dunia. 29 spesies diantaranya hidup di Indonesia, yakni di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku.

Burung-burung surga ini hidup tersebar dari wilayah Waigeo - Raja Ampat, Pegunungan Arfak, Mamberamo, Pegunungan Foja, belantara di pesisir Tambraw, Jayapura, Nimbokrang, Yapen, Taman Nasional Lorentz, Wasur - Merauke, hingga dekat perbatasan Papua Nugini. Juga di Kepulauan Aru, Pulau Halmahera dan Pulau Obi di Maluku Utara.

Wilayah hutan hujan tropis berkanopi lebat dengan pepohonan tinggi menjulang di Pulau Papua dan Kepulauan Maluku menjadi tempat para burung surga tinggal. Mereka menghuni hutan-hutan dataran tinggi hingga dataran rendah.

Beberapa diantaranya pemakan buah - buahan. Sebagian lagi pemakan serangga. Hutan adalah tempat para burung surga menggantungkan kehidupan dan berkembangbiak.

Cenderawasih tak hanya menjadi bagian dari mata rantai kehidupan di belantara hutan hujan tropis Papua dan Maluku yang rapat dan sunyi, melainkan juga simbol tradisi, filosofi kehidupan, dan Identitas budaya yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat adat.

Sebab jauh sebelum dunia menyebutnya bird of paradise, masyarakat adat telah memaknai burung cenderawasih sebagai simbol Adat yang harus dijaga, wujud penghormatan manusia terhadap alam yang memberi kehidupan,"tukasnya.

Kampanye Defending Paradise dimulai 21  Maret 2021 dan akan terus berlangsung hingga September 2021 melalui sosial media dan platform digital.

Kampanye ini dilakukan untuk menularkan kesadaran terutama bagi generasi muda Indonesia, tentang pentingnya kelestarian hutan hujan tropis dan burung cenderawasih, sebagai salah satu keanekaragaman hayati di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku.

Keberadaan cenderawasih menjadi tanda bahwa hutan - hutan di wilayah paling timur Indonesia ini masih tegak berdiri, menopang kehidupan dan berkontribusi pada keseimbangan iklim Dunia.


Berita Terkait