Pantai Pulau Nusmapi Terancam, Program PEN Manggrove Solusi Tangkal Abrasi

Oleh Redaksi

01 June 2021 00:10 846 VIew

''Survei TIM PEN Manggrove di Pulau Nusmapi Kabupaten Manokwari''

Manokwari, arfaknews - Masyarakat di Pulau Nusmapi (Pulau Lemon) sangat menginginkan  program PEN Mangrove dapat terealisasi sehingga Hutan Mangrove dapat tumbuh dalam waktu yang tidak terlalu lama sebelum adanya musim gelombang besar. 

Ketua RT. 002 Pulau Nusmapi/Lemon, Kampung Mansinam,  Distrik Manokwari Timur, Yohanes Mofu, menceritakan bahwa sejak dulu sekitar tahun 1974 pernah ada hutan Mangrove di bibir pantai Pulau Nusmapi,  namun tersapu gelombang dan arus sehingga tanaman Mangrove tidak pernah dapat bertahan tumbuh dan berkembang sampai saat ini. 

Padahal kehadiran Hutan Mangrove, kata Dia sangat penting untuk menopang kehidupan warga, sebagai sumber pemenuhan kebutuhan keluarga sehari - hari diantaranya, seperti adanya ketersediaan Ikan, lebih dari itu sebagai bahan tiang bangunan rumah. 

"Kami sangat membutuhkan program PEN Mangrove dapat masuk di Kampung Nusmapi” harap Mofu.

Kepala Seksi Program DASHL Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Remu Ransiki, Bayu Adrian Victorino,
mengatakan setelah melakukan Survey di pesisir Pantai Distrik Manokwari Selatan, Tim Survey Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Mangrove Tahun 2021 di Kabupaten Manokwari, kembali melanjutkan Survey di Pesisir Pantai Pulau Nusmapi/Lemon dan Pulau Mansinam Kampung Mansinam Distrik Manokwari Timur Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. (Sabtu, 29/05)

Dia menjelaskan bahwa program ini merupakan program padat karya yang akan dikerjakan langsung oleh masyarakat sejak pembibitan, penanaman hingga perawatannya serta diharapkan dapat membantu ekonomi warga khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19.  

Kegiatan ini difasilitasi atau dilaksanakan selama 1 (satu) tahun saja, oleh sebab itu dukungan serta partisipasi pemilik hak ulayat maupun warga setempat menjadi penting dalam terealisainya Program PEN 2021 ini di Pulau Nusmapi. 

“Hasil survey ini akan dikaji lebih lanjut untuk apakah dapat direalisasikan atau tidak karena akan mempertimbangkan faktor kesesuaian jenis mangrove berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan lapangan, keberadaan substrat eksisting, ombak, aktivitas perahu masyarakat (transport maupun mencari ikan) serta yang tidak kalah penting adalah dukungan dari pemilik ulayat.

Selanjutnya koordinasi dan komunikasi akan terus dilakukan secara  berkesinambungan melalui DLH Kabupaten Manokwari. Berdasarkan survey yang dilakukan, pelaksanaan kegiatan akan menggunakan pola rumpun berjarak sehingga nantinya dapat mengurangi hempasan ombak penyebab abrasi yang selama ini terjadi dan dikeluhkan warga” tutur Bayu A. Victorino

Bayu menambahkan, Hutan Manggrove di Pulau Nusmapi sangat penting manfaat seperti yang pernah ada hingga tahun 1980an sebelum punah dan tidak berbekas lagi hingga saat ini, walaupun pernah dilakukan penanaman oleh berbagai lembaga dan intansi namun tidak pernah membuahkan hasil.

Salah satu jenis Mangrove yang masih bertahan hidup dan berada dipinggiran Pulau Mansinam adalah jenis  Sonneratia Alba, dengan ciri-ciri bunganya berwarnah putih, jika berbuah mirip seperti buah apel, itupun hanya serumpun saja yang tersisa. 

Jenis Mangrove yang memiliki kemiripan seperti dimiliki Pulau Mansinam, adalah dengan memiliki bunga berwarna merah, yaitu jenis Sonneratia Caseolaris. Menurut informasi bahwa jenis ini pada masyarakat Bali dapat diolah menjadi rujak dan sirup Mangrove.

Selanjutnya, Yohanes Ada’ Lebang, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manokwari, menerangkan survey yang telah dilakukan dalam merealisasikan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Mangrove Tahun 2021, oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Remu Ransiki, Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat direalisasikan untuk “menghijaukan” pesisir pantai Manokwari dan secara bertahap di tahun - tahun yang akan datang dapat ditingkatkan.

Lebang menambahkan, jika diakomodir program ini pada pesisir pantai yang telah dilakukan survey maka semua warga yang terlibat untuk mempersiapkan bibit tanaman sejak dini dari potensi yang dimiliki maupun akan diupayakan dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan nantinya. 

"Maksimal pada bulan Agustus sudah berakhir penanaman disemua titik yang telah ditentukan nantinya, sehingga di akhir tahun kita sudah melihat hasilnya, semoga semua ini menjadi kerinduan dan mimpi bersama dapat terwujud.

Untuk itu diharapkan dukungan semua pihak baik pemerintah, masyarakat khususnya pemilik hak ulayat dapat mendukung program ini,"harap Lebang. 


Berita Terkait