Bangun Pondok Jualan, Gubernur PB Ingin Usaha Mama - mama Asli Papua Berkembang

Oleh Jems Aisoki

27 July 2021 13:08 8711 VIew

''Pondok Jualan Mama - Mama Papua di Kompleks Marina Amban Manokwari''

Manokwari, arfaknews -  Pembangunan sejumlah pondok  jualan di pinggir jalan baik di Manokwari maupun Kota Sorong  merupakan Kebijakan Gubernur Papua Barat untuk perdayakan mama – mama asli Papua yang berjualan Pinang dan aneka sayur mayur.

Pondok – pondok ini dikhususkan kepada mama – mama asli Papua, namun tidak menutup kemingkinan jika disitu bergabung juga masyarakat nusantara tetapi yang sudah lama berada di Papua. Yang jelas, pondok itu diprioritaskan kepada mama – mama asli papua,”kata Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Provinsi Papua Barat, Marthen Luther Tirony kepada media ini, Senin (26/7/2021).

Tirony mengatakan pondok – pondok tersebut dibangun diatas areal yang digunakan oleh mama – mama papua untuk berjualan.

 “Kita bangun diatas tempat yang sudah digunakan oleh mama – mama untuk berjualan. Bukan kita bangun ditempat baru, setalah itu kita panggil mereka untuk berjualan melainkan kita bangun pondok diatas tempat yang sudah digunakan oleh mereka,"bebernya.

Marthen merincikan, lokasi tersebut antara lain di Pelabuhan Manokwari, di Kompleks Marina Amban, di Jalan Transito Wosi dan beberapa tempat lainnya yang sudah digunakan. 

Disisi lain, mama – mama Papua kadang berjualan dari pagi, sore hingga malam hari, kerena itu perlu dibangun pondok jualan yang lebih baik, lebih nyaman agar tidak membuat para penjual terkena hujan dan sakit.

Dengan adanya pondok – pondok ini sangat membantu mama – mama Papua. Mereka bisa berjualan dan memanfaatkan waktu dengan baik untuk meningkatkan pendapatan mereka. Pendapatan mereka, kata Marthen berkisar antara 100 – 300 ribu per hari.

Selanjutnya, Marthen menjelaskan sebelum membangun pihaknya telah melakukan survey dan pendataan pengukuran agar pembangunan tersebut tidak mengganggu badan jalan dan berdampak pada arus transportasi. 

Kita survei lokasi, dan melakukan studi kelayakan apakah pembangunan tersebut mengganggu orang yang berjalan kaki, ataukah mengganggu kendaraan dan sebagainya. Setelah dilakukan studi kelayakan, barulah dibangun sesuai permintaan mama – mama Papua.

Kita tidak bangun sembarang melainkan ada usulan dari mama – mama Papua kita minta direstui oleh lurah atau RT/RW setempat, dan berdasarkan usulan itulah kita datang survei, mengukur dan melakukan pendataan.

“Saya kira pembangunan tersebut tidak melanggar UU lalulintas sebab kita bangun di belakang Trotoar. Jadi mestinya yang harus diperbaiki adalah pasar Borobudur sebab Pasar Borobudur Manokwari sudah tidak layak dan terkesan berada di Badan Jalan,"ujarnya.

Saya harap terkait dengan Pondok jualan, mari kita sama – sama mendukung mama – mama Papua, sebab pondok jualan ini merupakan salah satu kebijakan untuk perdayakan usaha mama – mama asli Papua.

Lebih lanjut, kata Marthen pihaknya bakal mencari format pemberdayaan yang lebih efektif untuk membantu mama - mama Papua dalam mengembangkan usahanya. 

"Kita tidak membangun dan membiarkan begitu saja. Kedepan, kita akan sediakan modal usaha, dan kita akan melakukan pengawasan dan pembimbingan dalam mengembangkan usaha mama - mama Papua

Modal usaha akan disediakan langsung oleh Bapak Gubernur, bekerja sama dengan salah satu Bank untuk dibantukan melalui buku rekening. Sementara untuk pengawasan dan pembimbingan, kata Marthen pihaknya akan bekerja sama dengan sekolah tinggi. 

Misalnya, kita gandeng STIH untuk membuat surat ijin Usaha (SIU) secara kolektif kepada mama – mama Papua yang usahanya sedikit berkembang.

Kedua, kita bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ekonomi atau Fakultas Ekonomi untuk membuat pendampingan, pembukuan pengeluaran dan pendapatan belanja usaha. 

Marthen menambahkan sejak 2020 hingga kini, Dinas Sosial Provinsi Papua Barat telah membangun 200-an Pondok jualan yang tersebar di Kota Manokwari, Kota Sorong dan direncanakan  untuk dibangun di Teluk Wondama. 

Tahun lalu,  100 lebih di Manokwari, 60 pondok di Sorong, akan di bangun di Wondama. Sementara kita juga sudah bangun 11 unit di Sarina Brawijaya,  rencananya akan dibangun di depan Sanggeng.  Jadi total semua yang sudah terbangun sebanyak 270-an.

Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Provinsi Papua Barat ini berharap ada kolaborasi yang baik dari pemerintah Daerah. Misalnya, kata Marthen, Pemprov sudah bangun pondok jualan,  pemerintah daerah Kabupaten bantu modal usaha.

"Jadi ada kolaborasi bersama untuk memberdayakan masyarakat terutama kita punya mama – mama asli papua ini," tukasnya.

Menutup wawancaran tersebut, Kabid Pemberdayaan Sosial ini menegaskan  bahwa pihaknya akan melakukan  evaluasi terhadap pondok - pondok jualan yang tidak aktif berjualan. 

"Kami harap, Pondok yang dibangun tidak diperjual belikan, dan atau disewakan. Pondok harus dijaga, dirawat dengan baik. Kami harap mama - mama Papua harus aktif berjualan, tidak meninggalkan pondok dalam waktu satu minggu. Kalau ditinggalkan, kita akan gantikan dengan orang lain yang membutuhkan,"tukasnya.

"Saya harap, mama - mama Papua kita tunjukkan rasa Terima kasih kita kepada Bapak Gubernur Papua Barat dengan cara memanfaatkan pondok jualan dengan penuh rasa tanggung jawab. Berjualan, dan mengembangkan usaha kita untuk kesejahteraan kita,"pintanya.


Berita Terkait