Pernyataan LSM Panah Papua Terlalu Prematur Terkait Konflik Bersenjata di Bintuni

Oleh Redaksi

03 August 2021 16:11 1732 VIew

''Foto Barang Bukti dalam aksi kontak tembak pada 16 Juli 2021 Kemarin di Distrik Moskona Barat''

Teluk Bintuni, arfaknews - Pernyataan Direktur panah Papua, Sulfianto Alias dan Korneles Aisnak di beberapa media lokal tanggal 2/08/2021 tentang peneyelesian konflik Bersenjata dan bagiamana solusi penyelesiannya terlalu prematur dalam menyimpulkan.

Konflik sumberdaya alam terkait pemberiam izin hak pengelolaan hutan dari pemerintah sangat prematur tidak bisa kita kaitkan kalau di tingkat masyarakat sendiri belum duduk dan bicara terkait hak kepemilikan.

Kami YLBH Sisar Matiti menilai pernyataan kedua orang tersebut tidak berdasar. Kami nilai pernyataan kedua orang tersebut hanya cari sensasi mendorong program lembaga yg tidak substantif serta akan ikut menyulut konflik tersebut.

Saat ini kami nilai ada keseriusan pemerintah untuk memediasi serta memfasilitasi solusi penyeleisan sehingga hendaknya setiap pernyataan yg di keluarkan harus ikut memberikan solusi yg bersifat datar untuk membantu mencari solusi jalan keluar dari perdamaian tersebut agar Konflik-konflik itu tidak terulang lagi.

YLBH Sisar Matiti mencatat, Kasus Pembunuhan terhadap Briptu Mesak Viktor Pulung tersebut terjadi pada 15 April 2020. Ia dibunuh di sebuah pos penjagaan milik PT Wanagalang Utama, sebuah perusahaan kayu yang beroperasi di wilayah Distrik Moskona Barat, Kabupaten Teluk Bintuni yang hingga saat ini pihak kepolisian masih terus memburu pelaku sampai ke Kabupaten Maybrat karena diduga pelaku bersembunyi disana.

Kedua, peristiwa kembali terjadi tanggal 16 Juli 2021 antara KKB secara tiba-tiba menembak aparat keamanan yang sedang mengantar balik 7 orang Anggota KNPB yang datang dari Kabupaten Maibrat ke Teluk Bintuni usai diperiksa oleh Kepolisian Resort Teluk Bintuni karena tidak memiliki bukti mereka diantara balik, dan pada pukul 16.25 WIT tiba - tiba KKB menyerang beberapa anggota Dari Polres Bintuni sehingga terjadi kontak tembak - menembak.

Dampak dari peristiwa itu masyarakat panik dan mengungsi ke kota untuk mencari perlindungan dan Warga yang mengungsi sudah difasilitasi pemerintah untuk balik ke kampung halaman.

Saran kami, pernyataan terkait Direktur LSM Panah Papua jangan diarahkan pada advokasi program lembaga karena ini menyangkut nyawa masyarakat serta kedamaian Masyarakat di wilayah Moskona Barat sampai di Kabupaten Maibrat harus diungkapkan siapa palaku dan aktor intelektualnya.

Dengan demikian, kami YLBH Sisarmatiti menyarankan pernyataan pribadi terkait kepentingan lembaga atau kepentingan pribadi menurut saya dikesampingkan dulu dan semua argumentasi publik harus di komunikasikan secara bersama masyarakat adat agar tidak ikut menyulut konflik diatara masyarakat itu sendri.

Hal itu harus di pahami agar kita semua ikut mendorong terciptanya situasi di wilayah Moskona Barat yang aman dan Kondusif sehingga daerah itu tidak menjadi Daerah Operasi Militer, tandasnya. 

Sebelumnya,  seperti dilansir dari media massa bahwa konflik bersenjata di Teluk Bintuni karena persoalan pengelolaan sumber daya alam. 

"Permasalahan saat ini yang terjadi di wilayah adat Moskona Barat adalah pada ketimpangan pengelolaan sumber daya alam antara masyarakat adat dengan pelaku usaha yaitu HPH yang beroperasi wilayah adat," seperti dilansir dari salah satu media lokal di Teluk Bintuni pada minggu (1/8/2021). 


Berita Terkait