Pemilik Hak Ulayat Beberkan Alasan Area Produksi PT. SDIC Cement Papua Dipalang

Oleh Redaksi

08 September 2021 08:09 1066 VIew

''Foto saat keluarga Pemilik Hak Ulayat melakukan negosiasi dengan Manajamen PT. SDIC Cement Papua Indonesia''

Manokwari, arfaknews - Keluarga Mansim kembali melakukan aksi pemalangan di area produksi PT. SDIC Cement Papua Indonesia di Maruni Kabupaten Manokwari Papua Barat, Selasa (7/9/2021).

Kini, merupakan hari kedua proses pemalang terus dilakukan oleh keluarga menunggu kejelasan dari Manajemen PT. SDIC Cement Papua Indonesia kepada warga pemelik Hak ulayak terkait 10 persen.

Mewakili Keluarga Mansim, Albert Masim mengatakan Keluarga Besar Mansim yang terdiri dari 8 keret pemilik hak Ulayat menuntut Manajemen PT. SDIC Papua Cemen Indonesia dan pemerintah daerah meninjau kembali MoU antar masyarakat adat, dan pihak perusahaan bersama pemerintah daerah.

Menurutnya, dalam Perjanjian tersebut beberapa item - item yang dinilai belum sepenuhnya dilaksanakan oleh PT. SDIC Cement Papua Indonesia, yakni, Dana CSR 10 persen kepada pemilik hak ulayat, dukungan pelayanan Pendidikan dan kesehatan termasuk penataan kembali lingkungan hidup.

"Sesuai kesepakatan, dari total Dana CSR (Corporate Social Responsibility), yang diberikan kepada pemerintah, keluarga pemilik ulayat mendapat bagian 10 persen setiap tahun," ujar Albert Mansim.

Dia menjelaskan, saat Perusahaan produksi hingga tahun 2019 selalu dibayarkan namun, sejak tahun kemarin ada gugatan di PTUN dari Keluarga Almarhum Titus Mansim   diwakili, Yustina Mansim menggugat Adolince Mansim (almarhum) istri dari Bapak Yonatan Mansim terikait hak ulayat 30.000 ribu hektar.

Putusan Gugatan itu berdampak pada Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari meminta perusahaan untuk tidak membayar dana 10 persen kepada pemilik hak ulayat.

Padahal setiap tanggal 20 bulan Desember pihak Manajemen perusahaan selalu membayar. Namun, mulai dari Tahun 2020 sejak adanya gugatan tersebut hingga kini belum juga dibayarkan.

Harusnya pemerintah jeli melihat hal tersebut, sebab jika dilihat dari isi gugatan  sama sekali tidak menunjukan turunan Mansim dari moyang mana saja yang memiliki hak diatas area yang digugat tersebut.

Isi gugatan, Yustina Mansim menggugat Adolince Mansim (almarhum) istri dari Bapak Yonatan Mansim terikait hak ulayat 30.000 ribu hektar.

Tiga puluh ribu (30.000) hektar itu cukup luas bisa meliputi kota Manokwari. Sementara area yang dikuasai PT. SDIC Cement tidak seluas dari 30.000 hektar. Hanya sekitar 24 hektar area tampung dan 54 hektar area produksi, total seluruhnya 54 hektar.

kami minta gugatan tersebut harus ditinjau kembali. Kami minta pihak Manajemen perusahaan meninjau kembali kesepakatan awal. Kami minta emerintah Pusat, pemerintah daerah dan Pihak Manajemen Perusahaan untuk kembali melihat hak - hak masyarakat adat pemilik hak ulayat.

Albert menerangkan masyarakat pemilik hak ulayat tidak menggunakan  cara tersebut untuk cari - cari uang semata. Tapi kami menuntut hak adat kami, berdasarkan MoU yang disudah disepakati,"tegasnya.

Lebih lanjut, pada selasa (7/9), pukul 22.00 WIT palang resmi dibuka oleh keluarga pemilik hak ulayat atas kordinasi Bupati Manokwari, Manajemen PT. SDIC Cemen Papua Indonesia dan pemilik hak ulayat.

"Bupati berjanji, kata Albert hari senin (14/9) pekan depan, akan segera dibayar dana 10 persen dan melakukan peninjuan kembali terhadap MoU yang telah disepakati dengan  pemilik hak ulayat,"terang Albert saat dikonfirmasi oleh media ini, Rabu (8/9/2021).


Berita Terkait