170 Hektar Hutan Sagu Di Sorong Bakal Dikembangkan Model Pertanian Terpadu Bernuansa Wisata

Oleh Redaksi

28 September 2021 01:12 1096 VIew

''Gambar Ilustrasi/Istimewa''

Manokwari, arfaknews - Pemerintah Provinsi Papua Barat merencanakan Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu Berbasis Sagu Bernuansa Wisata di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan dan Holtikultura Provinsi Papua Barat, Yakob Fonataba menerangkan komoditi Sagu merupakan salah satu jenis komoditi unggulan di Provinsi Papua Barat yang harus dikembangkan.

Hal itu sebagaimana menindak lanjuti arahan Menteri Pertanian RI saat Kunjungannya di Kabupaten Sorong pada 3 September 2021 kemarin, bahwa perlu dikembangkan suatu desain pengembangan model Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System) berbasis Sagu dan Bernuansa Wisata di Papua Barat.

Dari 170 Hektar areal Hutan Sagu, untuk tahap awal  kita desain di 3 hektar lahan. Jika desainnya berhasil akan  diduplikasikan lagi pada kawasan yang lain, termasuk pengembangan comoditi lainnya.

Sesuai perencanaan anggaran yang dibutuhkan sebanyak 7 Milyar.  Anggaran bersumber dari Kementerian, juga tambahan dana Shering antara Pemprov Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Sorong untuk melengkapi semua kebutuhan sesuai pilot project yang telah direncanakan.

Fonataba menerangkan sesuai arahan Menteri dalam tahun ini (2021) pengembangan model tersebut sudah bisa berjalan, namun situasi Pandemi sehingga tahun 2022 barulah dieksekusi.

Lebih lanjut, Fonataba menjelaskan pengembangan sistem pertanian terpadu berbasis Sagu merupakan sesuatu inovasi baru yang diterapkan karena itu diharapkan peran semua sektor baik Pemerintah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Sorong dan berbagai OPD teknis harus berkolaborasi untuk mendorong sistem pertanian tersebut.

Kami harap Dinas Pertanian Kabupaten Sorong bersama Pemerintah Kabupaten Sorong lakukan pendekatan dengan masyarakat untuk clean dan clear lahan. 

Intinya, model pengembangan ini tidak melibatkan investor. Masyarakat yang akan dilibatkan penuh dalam upaya mengembangkan model sistem pertanian Terpadu berbasis Sagu dan bernuansa Wisata terutama masyarakat pemilik kawasan tersebut.

Sesuai perencanaan, saya optimis jika model ini berhasil dikembangkan, akan meningkatkan ekonomi masyarakat, dan menyerap tenaga kerja serta berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Model ini adalah salah satu langkah pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produksi Sagu, bukan saja untuk produksi Sagu Mentah diolah menjadi Tepung Sagu Kering dan berbagai jenis produk turunannya.

Disisi lain, melalui model ini Kawasan Perkebunan Sagu akan dikembangkan berbagai jenis varian tumbuhan dan Hewan  sebagai suatu model desain terpadu yang terintegrasi dalam pengembangan komoditi Sagu. Disisi lain, Kawasan tersebut dikembangkan menjadi area destinasi pariwisata.

Tim terpadu akan petakan masyarakat pemilik hak ulayat termasuk bagaimana dominasi - dominasi hak - hak adatnya. Pasalnya, dari 3 hektar ini masuk dalam satu Kawasan dan didalamnya berbagai marga - marga yang memiliki hak diatas area tersebut.

Harapan kami, masyarakat bisa beradaptasi dengan model tersebut, mengembangkan produksi Sagu mentah dan mengelolanya menjadi Tepung Sagu dan berbagai produk turunannya. 

Dr. Aser Rouw Tim Peneliti Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu berbasis Sagu dan bernuansa Pariwisata, menerangkan Pengembangan integrasi terpadu, memiliki dua sistem berdasarkan pendekatan diferensiasi produk dan diversifikasi produk.

Menurutnya, Diferensiasi produk ialah hasil produk Sagu ditingkatkan olahan turunannya mulai dari olahan Tepung Sagu hingga tepung Sagu kering yang bisa dijual dan ditingkatkan  lagi hingga berbagai olahan yakni produk Kue Sagu, dan berbagai jenis olahan tepung Sagu dalam skala home industri. Sementara Diversifikasi Produk adalah suatu sistem Pertanian Sagu yang terintegrasi dengan berbagai pengembangan tanaman Pertanian dan Peternakan dalam kawasan tersebut," kata Peneliti Aser Rouw yang juga merupakan Kepala BPPT Provinsi NTT ini.

Rouw menjelaskan, Agrosistem perkebunan Sagu berada di rawa dan berair maka bisa diintegrasikan penanaman Talas Rawa atau pembangunan Tambak Ikan Lele. Disamping itu bisa juga dikembangkan peternakan Ternak Babi. 

Daun Talas bisa digunakan untuk makanan ternak Babi dan Talas bisa dijadikan sebagai komoditi konsumsi masyarakat. Jadi melalui sistem ini berbagai jenis tumbuhan rawa, dan ternak yang bisa diintegrasikan dalam kawasan tersebut.

Model ini, kata Rouw berbagai sistem terintegrasi secara terpadu yang didesain bernuansa Pariwisata sebab lokasi yang saat ini mau digunakan berada di lokasi pariwisata Kebun Sagu Kabupaten Sorong. 

Para Turis dan peneliti bisa berkunjung ke area perkebunan Sagu, menyaksikan berbagai Jenis Varietas Sagu tetapi juga dapat melihat berbagai jenis tumbuhan  dan hewan yang diintegrasikan kedalam area itu. Pengembangan model ini akan membangkitkan multiplayer efek terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Masyarakat bisa produksi Sagu, bisa kembangkan peternakan Ternak, Ikan Lele, atau Jenis Ikan lainnya, dan mengembangkan Pertanian Tumbuhan Rawa diatas area tersebut. 

Lebih Lanjut, Mantan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat ini menegaskan  bahwa masyarakat tetap sebagai pemilik dan pelaku yang akan mengelola sistem pertanian Terpadu berbasis pariwisata tersebut. 

Pemerintah hanya mendorong dan mendesain model pengembangan perkebunan Sagu agar ada peningkatan dan pertumbuhan pengelolaan perkebunan Sagu. Masyarakat akan dilatih, diberdayakan dan dibimbing untuk mengadopsi model pengembangan perkebunan ini, mengadopsi sistemnya, dan mengatur manajemen kelembagaannya.

Ditargetkan tiga tahun, dimulai dari tahun 2021 perencanaannya, 2022 sudah diterapkan dan tahun 2023 diharapkan  masyarakat sudah mandiri melakukan produksi Tepung Sagu. Ketika dievaluasi sudah baik, sudah mandiri dan langkah selanjutnya diduplikasikan lagi dikawasan lain.

Model ini dikerjakan secara terpadu dan terintegrasi, maka diharapkan dukungan semua OPD teknis untuk keroyok program ini secara bersama - sama. Mulai dari  perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi,"tukasnya.


Berita Terkait